Home Kesehatan Peserta BPJS Jateng 20 Juta Lebih, Ganjar Minta Dibuatkan Sistem Informasi

Peserta BPJS Jateng 20 Juta Lebih, Ganjar Minta Dibuatkan Sistem Informasi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo

Semarang, 4/11 (BeritaJateng.net) – Menyikapi resistensi masyarakat terhadap kewajiban untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan, BPJS Kesehatan Divre VI Jawa Tengah menerapkan model inspiring. Melalui model tersebut, kini 22 juta jiwa masyarakat Jawa Tengah sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan.

“Inspiring menjadi model pendekatan kami agar masyarakat mau menjadi peserta. Sebab, kalau wajib kok ada resistensi. Dengan inspiring ini berhasil,” kata Kepala BPJS Kesehatan Divre VI Jawa Tengah yang kini menjadi Direktur Pemasaran BPJS Kesehatan Pusat, Andayani Budi Lestari saat beraudiensi dengan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP di Kantor Gubernur, Jumat (4/11)

BPJS Kesehatan Divre VI Jawa Tengah, sambungnya, juga sudah bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dari data penduduk yang diberikan, BPJS Kesehatan bisa menyampaikan siapa saja yang sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan, dan data siapa saja yang meninggal karena sakit. Di samping itu, jika diperlukan, BPJS Kesehatan bisa menginformasi-kan pareto diagnosa.

“Kalau Bapak (Gubernur) menghendaki pareto diagnosa, misalnya orang di Semarang kebanyakan sakit apa, 10 besarnya (BPJS Kesehatan) ada,” ujarnya.

Data pareto diagnosa, menurut Gubernur Ganjar Pranowo sangat penting. Sebab, dengan mengetahuinya, perbaikan kesehatan dari sisi hulu bisa dilakukan dengan lebih tepat.

“BPJS itu cerita hilir. Begitu tahu sakit apa yang paling banyak, kita benahi sisi hulunya. Perbaikan di sisi hulu akan menurunkan jumlah penderita sakit,” tuturnya.

Namun, menurut Ganjar, dengan jumlah peserta yang sudah puluhan juta, BPJS Kesehatan Jawa Tengah perlu mengembangkan sistem informasi. Dia mengharapkan, dengan sistem informasi yang ada, dapat diketahui peserta berbasis nomor induk kependudukannya, layanan yang tersedia, complain handling, dan produk-produk turunannya.

“Jumlah peserta sudah jadi data. Sangat visible untuk diturunkan sebagai suatu sistem. Terserah nanti (dashboard) dari sisi kesehatannya,” ujarnya.

BPJS Kesehatan memang sudah memiliki sistem informasi dengan memanfaatkan twitter @bpjskesehatanri. Tapi, orang nomor satu di Jawa Tengah itu berpendapat, akun BPJS Pusat tidak responsif terhadap keluhan.

“Kalau BPJS pusat, kecapaian. Di akun BPJS pusat tidak ada jawaban. Atau kalau ada jawaban, nanti kami tindaklanjuti. Jawabannya terlalu normatif  Jadi apa kita tidak bisa mencari satu sistem yang bisa di-develop di Jateng, khususnya BPJS Jateng punya inisiatif untuk pola pelayanan dan complain handling. Jadi kalau ada yang komplain, siap. Yang paling gampang lewat twitter. Karena masyarakat tahu, dan semua pekerjaan kita dilihat ,” jelasnya.

Sistem informasi yang dibuat, lanjutnya, juga bisa dimanfaatkan untuk memberikan pesan sosialisasi. Ganjar mencontohkan, saat musim pancaroba, menjadi kesempatan BPJS Kesehatan menyosialisasikan bahaya demam berdarah. (Bj)