Home Headline Perusak Kantor NU Blora Dikenal Pendiam

Perusak Kantor NU Blora Dikenal Pendiam

Perusak Kantor NU Blora Dikenal Pendiam
       BLORA, 7/3 (BeritaJateng.net)  – Mufid Mubarok, (22) pelaku penyerangan Kantor PCNU Blora pada Minggu malam (4/3/2018) dikenal keluarga sebagai sosok yang pendiam. Bahkan pelaku juga dikenal sebagai sosok yang cerdas sewaktu masih sekolah.
        Menurut bibi pelaku, yang enggan disebutkan namanya, Pelaku selama ini dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah melakukan hal-hal aneh. pelaku juga dikenal pribadi yang pendiam Dan tidak pernah melakukan tindak kekerasan apapun. Bahkan pelaku, selama ini adalah termasuk pribadi yang cerdas.
        “Selama duduk di bangku SD sampai SMK pelaku ini selalu menjadi juara kelas. Paling meskipun turun itu hanya rangking dua,” ujarnya saat ditemui dirumah pelaku di dukuh greneng kecamatan Tunjungan, Rabu pagi (7/3/2018).
        Bahkan, setelah dia lulus SMK pelaku langsung bisa bekerja di perusahaan gula PT GMM Bulog Blora. Bahkan saat ini pelaku sudah termasuk pegawai tetap diperusahan gula ini.
         Menurutnya, pelaku mengalami perubahan pada Minggu (4/3) pagi secara derasti sampai kemudian melakukan penyerangan. Hal itu dia sadari saat dia bertemu dengan keponakannya ini. Pelaku yang tidak biasanya tidak biasnya berbicara santun tiba-tiba berubah jadi santun.
        “Keponakan saya ini tidak pernah melakukan hal seperti ini. Karena biasanya kalau  bertemu saya itu hanya menyapa saja tidak pernah bicara akrab, saya juga merasa aneh,” akunya.
         Tidak berhenti disitu, keanehan pelaku muncul juga saat membantu ibunya berjualan di pasar. “Saat pelaku membantu ibunya berjualan. bukan menjual dagangannya. malah dagangan ibunya diberikan kepada orang-orang dipasar tanpa membayar yang katanya itu sodakoh,” tuturnya sambil menirukan ucapan ibu pelaku.
         Meski begitu, ia enggan mengatakan jika keponakannya ini mengalami ganguan kejiwaan atau gila, karena jika gila saat pelaku berbicara kepada dirinya tidak mungkin menggunakan bahasa yang halus dan sopan santun. Kalaupun gila menurutnya, bisa saja tiba-tiab tertawa sendiri. ”Ya semoga keponakan saya ini cepat di beri kesehatan,” pungkasnya.
(MN/El)