Home Ekbis Pertumbuhan UMKM Jateng Makin Bertambah

Pertumbuhan UMKM Jateng Makin Bertambah

Semarang, 30/11 (BeritaJateng.net) – Pertumbuhan dan perkembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari tahun ke tahun memiliki ketahanan dalam mengahadapi krisis ekonomi baik berskala nasional dan global.

Hal tersebut dsampaikan oleh Mulyadi, Deputi Direktur Pengawasan Bank dari OJK Jateng DIY, dalam diskusi Tantangan dan Peluang Pembiayaan UMKM di hotel Pandanaran Semarang.

“Jumlahnya bertambah terus, bahkan angka pertumbuhan UMKM Jateng diatas angka pertumbuhan UMKM nasional,” katanya.

Bahwa dari pertumbuhan UMKM itu, banyak memiliki beberapa hambatan diantaranya tentang permodalan, keterbatasan akses informasi dan pemasaran.

“Banyak UMKM yang belum bankable, artinya ada beberapa persyaratan perbankan yang belum bisa dipenuhi UMKM dalam mengajukan pinjaman permodalan kredit usaha,” jelasnya.

Selain data administrasi, lanjutnya, data seperti NPWP, TDP, dan SIUP juga menjadi masalah, administrasi laporan keuangan menjadi kendala tersendiri dalam penyusunannya. UMKM masih mengandalkan sistem manual dan jarang mencatat transaksi arus kas usahanya.

“Padahal perbankan sekarang sudah bisa membantu dalam penyusunan laporan keuangan UMKM saat pengajuan kredit usaha, yang terpenting ada data sederhana. Ini yang kadang belum dipahami pelaku UMKM,” jelasnya.

Sementara itu, akademisi dari Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Soegijapranta Semarang, Dr. A. Ika Rahutami menyatakan UMKM terutama sektor usaha Mikro adalah merupakan landasan dari perekonomian nasional.

“Saya lebih suka menyebutnya UMK, Usaha Mikro Kecil, karena disinilah basis terbesarnya yakni ada sekitar 98 persen dari UMKM yang ada. Kehebatan UMK tak pernah berhenti berpikir untuk selalu ada inovasi baru,” tuturnya.

Menurutnya, dari data yang ada dari Dinas Koperasi dan UMKM propinsi Jateng pertumbuhannya selalu naik. Dan pada tahun 2011 ada sekitar 72 ribu binaan, dan jumlahnya naik di 2015 menjadi 105 ribu binaan.

“Selain inovasi mereka juga kuat dalam sektor penyerapan tenaga kerja, ada sekitar 625 ribu tenaga kerja yang terserap di sektor UMK,” tambahnya.

Ia juga mengakui jika permasalahan klasik UMK adalah pada permodalan perbankan dan ketersediaan informasi yang terbatas dari stokholder seperti dinas terkait dan perbankan juga. “Padahal pemerintah memiliki dana yang cukup besar untuk digulirkan disektor UMK, namun informasi yang ada kadang tak sampai di UMK,” katanya.

Untuk itu, ia menyarankan pelaku UMK juga tak segan bertanya kepada petugas perbankan atau pemerintahan terkait akan adanya beberpa fasilitas pendanaan oleh pemerintah.

“Memang pemerintah hanya menjamin subsidi pada bunga pinjaman, tapi disitu banyak sekali kemudahannya seperti di KUR, PNPM atau permodalah mikro lainnya,” ucapnya.

Praktisi UMKM, B Natalian Sari Pujiastuti menyampaikan, pelaku UMKM atau wirausaha harus bisa merubah mindset dan fokus pada usahanya. “Kendala permodalan sebenarnya bisa disiasati, perbankan sudah terbuka akan akses permodalan tinggal persayaratan harus sesuai dalam pengajuan KUR,” katanya.

Pelaku UMKM juga harus fokus kepada usahanya, hendaknya jangan mencabang sebelum satu usahanya bisa berkembang dan menghasilkan. “Tunjukan dulu hasil dari produk kita yang sudah jadi, baru bisa beralih menambah sektor usaha lainnya. Jika satu usaha telah berhasil maka perbankan tanpa diminta juga akan mendatangi untuk menawarkan bantuan permodalan,” terangnya.(BJ06)