Home News Update Perlu Aspek Kemandirian untuk Keberhasilan Belajar

Perlu Aspek Kemandirian untuk Keberhasilan Belajar

Jajaran pengurus IKA HMP BK UPGRIS didampingi dua dosen BK, Heri Saptadi Ismanto dan Agus Setiawan usai acara di Pemancingan Kalipancur.

SEMARANG, 16/7 (BeritaJateng.net) – Keberhasilan belajar siswa tentunya menjadi dambaan banyak pihak, mulai dari siswa, orangtua, guru, sekolah, masyarakat, bahkan negara. Namun, untuk mencapai prestasi belajar tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, diperlukan sebuah proses peningkatan siswa.

Hal itulah yang menjadi titik pembahasan dalam kegiatan ‘Forum Diskusi sekaligus Halal Bihalal’ yang diadakan Ikatan Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Program studi Bimbingan dan Konseling (IKA HMP BK) di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Sabtu (16/7/2016).

Ketua Umum IKA HMP BK UPGRIS, Joko Susanto menilai, kesulitan belajar yang dialami siswa selama proses belajar berlangsung adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, aspek kemandirian belajar adalah kunci untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Akan tetapi realitanya banyak yang mengalami kesulitan belajar siswa.

“Kemandirian berasal dari kata mandiri dan diartikan sebagai suatu hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Jadi bukan hanya sebatas fisik semata,” kata Joko didampingi Sekjend-nya, Ilman Agniya dalam acara bertemakan ‘Temu Dhulur Kumpul Balung’ yang diadakan di Pemancingan Kalipancur, Kota Semarang.

Joko menyatakan, gejala-gejala yang mengindikasikan siswa tidak mandiri dalam belajar selayaknya mendapatkan penanganan sejak dini, mengingat kemandirian menjadi pilar penting bagi pembentukan karakter seorang siswa.

“Tujuan jangka panjang pendidikan adalah mengembangkan kemandirian belajar siswa. Sehingga perlunya diterapkan pendekatan yang mendorong peserta didik agar belajar sesungguhnya belajar dan perlunya pelatihan bagi guru untuk mempraktikkan pendekatan belajar aktif,” ungkap Ketua Dewan Pembina Komunitas Pemerhati Korupsi (KOMPAK) Jateng ini.

UPGRIS Semarang

Untuk itu, lanjut Joko melihat kondisi munculnya gejala tersebut, maka sebagai calon dan konselor sekolah tidak boleh tinggal diam. Melainkan pentingnya untuk menfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangan yang menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral spiritual .
“Sebagai profesioanal di sekolah, calon dan seorang konselor berperan penting dalam pendampingan seluruh peserta didik mencapai kemandirian sesuai dengan standar kompetensi kemandirian peserta didik (SKKPD) di seluruh jenjang pendidikan formal,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua IKA Progdi BK UPGRIS, Heri Saptadi Ismanto menyatakan, saat ini hal terpenting merupakan peningkatan kualitas manusia. Ia menyebutkan, bahwa Presiden Repubik Indonesia, Joko Widodo sudah menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi kualitas manusianya.

Heri menjelaskan manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Untuk itu, segala capaian yang diraih baik sebagai individu maupun bangsa merupakan persinggungan dengan pendidikan.

“Mutu dan jenjang pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju dan sejahtera. Maka memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang bermutu sepanjang hidupnya sama dengan memaslikan kejayaan dan keberlangsungan bangsa,” sebut Heri didampingi Agus Setiawan, dosen BK UPGRIS.

Heri mengatakan, saat ini revolusi teknologi menjadi pendorong lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara hidup manusia, cara bekerja maupun cara belajar.

“Meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena ketidakpastian perubahan yang ada,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, juga disepakati adanya Malam Keakraban (Makrab) yang diagendakan Desember 2016 dan Seminar Nasional tentang Kriminalisasi Guru dalam mendidik siswa yang diagendakan Maret 2017 sekaligus Musyawarah Besar (Mubes) ke II. (BJ)