Home Headline Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Urban Farming

Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Urban Farming

188
Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meninjau lokasi urban farming warga di Sumurboto.

SEMARANG, 24/1 (BeritaJateng.net) – Kegiatan Urban Farming atau tani perkotaan yang dilakukan masyarakat di masa Pandemi di Kota Semarang saat ini trendnya menjadi meningkat. Bertambahnya, kegiatan urban farming, salah satu penyebabnya karena mudah untuk dipraktekan di semua lahan yang ada dan cukup mengasyikkan.

Ada yang bergerak di bidang tanaman pangan, holtikultura, dan sebagian tanaman hias.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur mengatakan, sebenarnya urban farming sudah mulai dilakukan sejak tahun 2016. Saat ini berkembang dengan adanya pelatihan mandiri urban farming di corner urban farming, berada di Samping SMA Negeri 1 Semarang, setiap pekannya.

“Bu Wakil juga beberapa kali memberikan pelatihan tentang urban farming, yang setiap angkatannya ada sebanyak 40 orang yang dilatih. setiap minggu untuk mengenal seluk beluk dan tata cara urban farming,” katanya, Minggu, (24/1/2021).

Semua tanah atau lahan yang ada meski terbatas, jelas Hernowo, di semua tempat bisa dijadikan untuk kegiatan urban farming. “Misalnya¬† berupa tabulampot (tanaman buah dalam pot), aquakultur dan sebagainya. Dan jenis buah yang tanam, mulai dari anggur, srikaya, jambu kristal dan lain-lain,” imbuhnya.

Saat ini, kata Hernowo, untuk pelatihan urban farming di corner urban farming sementara ini secara perorangan, dan harus mendaftarkan diri terlebih dulu, baik melalui IG, dan medsos Distan Kota Semarang.

“Sedangkan untuk bantuan bibit berupa tanaman holtikultura seperti lombok, terong, tomat. Serta empon-empon seperti serai, jahe, dan peralatan hidroponik sederhana disalurkan melalui kelompok urban farming yang ada,” imbuhnya.

Sekarang ini, jelas Hernowo, jumlah yang telah terdaftar secara resmi ada 110 kelompok urban farming. Sedangkan untuk kelompok tani ada sebanyak 389 kelompok tani di Kota Semarang.

Disisi lain, untuk pemasaran urban farming untuk skala rumah tangga, menurutnya ada potensi, namun memang masih ada kendala, yaitu terkait kontinuitas atau keberlanjutan produksi. Karena, Ketika harus dipasarkan, kontuinuitas produksi itu harus terjamin.

“Saat ini kami berupaya membangun pasar dengan membuat jejaring, agar produk yang dihasilkan bisa dipasarkan antar mereka. Masih dilatih agar kontinuitasnya terjaga, sehingga pasar terbentuk, dan dapat untuk menjual produk dengan baik,” terangnya.

Yang sudah berjalan, lanjut Hernowo, bisnis urban farming salah satu warga di Semarang Utara, yakni tanaman hidroponik sayuran, sudah bisa menjual di beberapa toko sekitar. Selain itu, ini adalah upaya Distan untuk mencukupi ketahanan pangan keluarga,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, Pemkot Semarang tidak lepas tangan setelah warga dilatih untuk kegiatan urban farming. Dimana, dari ratusan kelompok urban farming yang sudah terbentuk bisa mendapatkan terus menerus dari pendampingan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kota Semarang.

“Sehingga, kelompok urban farming bisa sampai berhasil, seperti di daerah Sumurboto, ada salah satu warga yang memanfaatkan rumahnya dijadikan kebun anggur dan kelompok wanita tani umbul Makmur juga membudidayakan jarum tiram. Dan nantinya ada pendampingan oleh dinas pertanian melalui PPLnya masing-masing di 16 kecamatan,” pungkasnya. (EL)