Home Ekbis Pengrajin Pisau di Kudus Tertekan Harga Bahan Baku

Pengrajin Pisau di Kudus Tertekan Harga Bahan Baku

pisau (6)
Ilustrasi

Kudus, 22/2 (Beritajateng.net) – Pengrajin pisau di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tertekan dengan naiknya harga sejumlah bahan baku untuk membuat pisau hingga 20-an persen, sedangkan daya serap pasar masih rendah sehingga kesulitan menyesuaikan harga jual di pasaran.

“Meskipun harga jual bahan bakar minyak (BBM) sudah turun, kenyataannya harga semua bahan baku untuk membuat pisau tidak juga beranjak turun setelah mengalami kenaikan untuk menyesuaikan kenaikan harga BBM sebelumnya,” kata salah seorang perajin pisau di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus, Sahri Baedlowi di Kudus, Minggu.

Harga bahan baku yang masih bertahan dengan harga tinggi, yakni harga stainless steel kualitas terbaik saat ini dijual Rp30.000 per kilogram, dibanding sebelumnya hanya Rp25.000/kg.

Sementara harga stainless steel kualitas rendah saat ini ditawarkan Rp20.000/kg dibanding sebelumnya hanya Rp17.000/kg.

Kenaikan harga juga diikuti pemasok gagang pisau dari kayu yang awalnya hanya Rp2.000 per kodi, kini melonjak menjadi Rp5.000 per kodi.

Meskipun harga jual BBM sudah turun, kata dia, harga sejumlah bahan baku tersebut belum juga ikut turun.

Kondisi tersebut, kata dia, semakin diperparah dengan naiknya tarif paket kiriman barang ke luar kota menjadi setiap kilogramnya naik hingga Rp1.200/kg dengan menyesuaikan daerah tujuan.

“Awalnya sempat naik Rp1.400/kg, namun ketika harga BBM turun hanya turun Rp200 menjadi Rp1.200/kg,” ujarnya.

Karyawannya, kata dia, juga menuntut kenaikan gaji sehingga terpaksa dinaikkan dengan menyesuaikan harga jual pisau.

Ia mengakui, kesulitan menentukan kenaikan harga jual karena respons pasar justru negatif ketika berencana menaikkan harga jual menyesuaikan kenaikan harga jual BBM.

Akhirnya, lanjut dia, harga jual pisau per unitnya hanya dinaikkan Rp100 karena mempertimbangkan pangsa pasar agar tidak beralih ke kompetitor.

Dengan kenaikan harga jual sebesar itu, dia mengakui, masih bisa meraih untung, meskipun belum sebanding dengan kenaikan biaya produksi dan biaya lain-lainnya.

“Hanya saja, keuntungan yang didapat memang berkurang hingga 30-an persen dari keuntungan sebelumnya,” ujarnya.

Keputusan menaikkan harga jual hanya Rp100 per bilah, kata dia, memang masih mendapat respons positif pasar karena permintaan masih mengalir.

Di antaranya, permintaan pengiriman pisau ke Jakarta sebanyak 83 kodi, Malang sebanyak 25 kodi, dan Surabaya 15 kodi.(ant/bj02)