Home Headline Pengguna dan Pembuat Ijazah Palsu Ditangkap

Pengguna dan Pembuat Ijazah Palsu Ditangkap

Tersangka pembuat dan pengguna ijasah palsu

Purbalingga, 20/6 (BeritaJateng.net) – Setelah melakukan penyelidikan secara intensif, Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Purbalingga akhirnya berhasil menangkap lima tersangka pengguna dan pembuat ijazah palsu. Mereka kini ditahan di Mapolres Purbalingga, dan diancam penjara maksimal enam tahun.

Adapun tersangka pengguna adalah Solatun (43) warga Desa/Kecamatan Padamara yang tak lain perangkat desa setempat. Tersangka pembuat Edi Wahyuni warga Kecamatan/Kabupaten Pemalang.

Adapun tersangka lain sebagai perantara yaotu Wigiarto warga Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Sri Winarni dan Sakhorni warga Kecamatan/Kabupaten Pemalang. Serta seorang, Handika warga Kecamatan/Kabupaten Pemalang masih dalam daftar pencarian orang.

Kepala Sub Bagian Humas Polres Purbalingga, Iptu Diman dalam siaran pers, Sabtu (20/6) menjelaskan, penangkapan para tersangka setelah sebelumnya polisi mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa Solatun, salah satu perangkat Desa/Kecamatan Padamara sebelumnya tidak pernah lulus SD. Namun yang bersangkutan lolos menjadi perangkat desa dan mampu menunjukkan ijazah Kejar Paket C setara SMA.

“Dari laporan itu, Unit III Satreskrim kemudian melakukan penyelidikan dan menangkap pengguna ijazah itu serta pembuat dan perantaranya,” katanya.

Modus operandinya, Solatun yang akan mendaftar sebagai perangkat desa mencari ijazah palsu. Ia membujuk Wigiarto dan saudaranya Sri Winarni untuk mencarikan ijazah itu dengan memberikan uang Rp 3,5 juta. Keduanya lalu membujuk Handika dengan uang Rp 1,3 juta. Handika lalu menyuruh Sakhroni mencari ijazah yang dimaksud.

Sakhroni kemudian menyuruh Edi Wahyuni untuk membuat ijazah palsu dan surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) dengan bayaran Rp 400 ribu. Caranya, dengan memindai ijazah asli menggunakan mesin scaner dan mengeditnya menggunakan komputer, kemudian mencetaknya menggunakan mesin printer.

“Adapun ijazah dan SKHUN palsu itu lulusan kejar paket C program studi pengetahuan sosial tahun 2014 dengan ditandatangani Kepala Dikpora Kabupaten/Kota Tegal Drs Edy Pramono. Dari hasil penyelidikan, ternyata kepala dinas tersebut tidak pernah mengeluarkan ijazah itu,” tambah Kepala Bina Operasi (KBO) Satreskrim Polres Purbalingga, Inspektur Dua Agus Setiarso.

Sementara itu, tersangka Solatun mengatakan, ia terpaksa mencari ijazah palsu tersebut karena sebagai persayaratan mendaftar sebagai perangkat desa. Ia sendiri lolos dalam seleksi dan menjabat sebagai Ptl Keamanan selama delapan bulan sebelum kasus ini diungkap. Untuk mendapatkan ijazah itu, ia mengeluarkan Rp 3,5 juta.

Adapun tersangka Edi Wahyuni yang bekerja sebagai tenaga percetakan komputer mengaku baru pertama kali melakukan pemalsuan ijazah. Ia mengaku mendapatkan Rp 400 ribu dari orang yang meminta membuatkannya.

Kepala Unit III Satreskrim Inspektur Dua I Made Nergo mengatakan, tersangka Solatun dijerat Pasal 69 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas subsider Pasal 263 ayat 2 KUHP dengan ancaman penjara maksimal enam tahun.

Tersangka perantara, Wigianto, Sri Winarni dan Sakhroni serta pembuatnya, Edi Wahyuni dijerat Pasal 263 ayat 1 KUHP junto Pasal 55 ayat 1 ke-2 KUHP dengan ancaman pidana maksimal enam tahun.

“Kami masih melakukan penyelidikan untuk mencari satu tersangka lagi, Handika yang saat ini masih menjadi DPO(Daftar Pencarian Orang)  atau buron,” katanya. (BJ33)