Home News Update Penderita DBD di Bojonegoro Capai 143 Orang

Penderita DBD di Bojonegoro Capai 143 Orang

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Bojonegoro, 25/2 (BeritaJateng.net) – Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyebutkan jumlah penderita demam berdarah dengue di daerah ini sejak 1 Januari sampai 23 Februari 2015 mencapai 143 orang, tiga di antaranya meninggal dunia.

“jumlah penderita BDB dalam dua bulan terakhir jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu dalam waktu sama yang hanya mencapai 26 penderita,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bojonegoro Achmad Hernowo, di Bojonegoro, Rabu.

Oleh karena itu, kata dia yang didampingi Kasi Pengendalian Penyakit Dinkes Whenny Dyah, pemkab menetapkan kejadian luar biasa (KLB) dalam menghadapi penyebaran DBD di daerahnya.

Sesuai ketentuan, lanjutnya, penetapan KLB DBD berdasarkan jumlah penderita yang ditemukan mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, dalam waktu bersamaan.

‘ “Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, yang menetapkan KLB sebanyak 27 kabupaten termasuk Bojonegoro,” tandasnya.

Sesuai data, katanya, sebanyak 143 pasien DBD yang ditemukan selama dua bulan itu, tersebar di 21 kecamatan, baik yang dirujuk di rumah sakit (RS) milik pemkab, swasta dan puskesmas.

“Tiga penderita DBD meninggal dunia, dari Kecamatan Gayam dua orang dan dari Desa Mulyoagung, Kecamatan Kota, satu orang,” ucap Dyah, menambahkan.

Menurut Dyah, hanya tujuh kecamatan di daerahnya yang tidak ditemukan kasus DBD yaitu Kecamatan Kedewan, Sugihwaras, Sukosewu, Sekar, Kedungadem, Kapas, dan Gondang.

“Prinsip berkembangnya DBD sangat bergantung dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), sebab “fogging” atau pengasapan hanya membunuh nyamuk aedes “aegypti” tidak membunuh jentiknya,” paparnya.

Ia mencontohkan jajaran desa di Kecamatan Kedewan, berhasil melakukan gerakan PSN, sebab tahun ini tidak ditemukan kasus DBD, padahal tahun lalu banyak ditemukan kasus DBD di daerah setempat.

Dengan demikian, menurut dia, pencegahan penyebaran penyakit DBD yang lebih penting melalui gerakan 3 M yaitu kegiatan menguras, menutup dan mengubur tempat yang ada airnya, ditambahkan abatisasi.

“Dinkes sudah melakukan 27 kali Pengasapan di lokasi yang positif ditemukan kasus DBD,” katanya. (ant/BJ)