Home Headline Pemkot Semarang Tak Rekomendasikan Penyelenggaraan Bukber dan Sahur Bersama Saat Ramadhan

Pemkot Semarang Tak Rekomendasikan Penyelenggaraan Bukber dan Sahur Bersama Saat Ramadhan

Semarang, 12/4 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tidak merekomendasikan masyarakat menyelenggarakan kegiatan Buka Bersama (Bukber) dan Sahur Bersama yang berpotensi mengundang kerumunan.

Hal ini disampaikan oleh Drs KH. Maturi, MA Kasubbag Pelayanan Sosial Bagian Kesra, Pemkot Kota Semarang, Senin (12/4) usai Dialog Interaktif bertajuk ‘Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1442 H Pasca Pandemi Covid-19’.

Menurutnya, Pemkot Semarang telah menggelar musyawarah dengan Forkopimda Kota Semarang dan mengambil kebijakan yang berpijak pada Surat Edaran dari Menteri Agama dan memperhatikan laporan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) yang didalamnya dilaporkan bahwa kondisi Covid-19 di Kota Semarang sudah relatif landai.

Meski demikian, Lanjutnya, ketika ada momen-momen tertentu seperti long weekend dan libur hari keagamaan, kondisi Covid-19 di Kota Semarang mengalami kenaikan.

“Nah ini jadi formula dari Pemerintah, agar ketika beribadah di masjid dan mushala masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Pastikan seluruh tempat ibadah disiplin dan tidak mengabaikan prokes,” ujarnya.

Saat ditanya terkait kegiatan buka bersama (Bukber) dan sahur bersama yang selalu dilakukan masyarakat saat bulan puasa tiba. Pihaknya menyebut jika Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tidak merekomendasikan adanya Bukber atau Sahur bersama saat Ramadhan.

“Bukber dan Sahur bersama itu berpotensi adanya kerumunan. Di khawatirkan akan ada kelengahan yang menyebabkan klaster baru. Maka pemerintah Kota Semarang tidak merekomendasikan adanya Bukber,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat agar saling menjaga dan mengendalikan kelonggaran yang diberikan Pemkot Semarang. “Artinya semua harus bisa menjaga. Yang penting kebebasan benar-benar terkendali. Tidak bebas secara total. Ibadah diperbolehkan, kesehatan masyarakatnya juga tetap terjaga,” ujarnya.

Sementara untuk kegiatan sahur, menurut Maturi, pedagang dan warung makan diperkenankan beroperasi dengan aturan tidak melayani makan ditempat atau ‘take away’. “Kegiatan malam dibatasi, pusat perbelanjaan atau mall dibatasi sampai pukul 20.00 WIB. Sementara cafe dibatasi sampai pukul 24.00 WIB. Kalau sahur, pedagang boleh melayani tapi tidak dibuka secara lebar-lebar,” jelasnya.

Ia berharap kebijakan pemerintah ini bisa dilaksanakan sebaik mungkin dan dikawal oleh Satpol PP Kota Semarang selaku penegak perda.

Senada, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Muhammad Afif mengatakan bahwa kegiatan buka bersama (Bukber) berdasarkan Fatwa MUI tidak diperkenankan.

“Diperkenankan apabila mereka bisa menyiapkan nasi kotak dan bukan secara prasmanan. Jika menggunakan prasmanan, dikhawatirkan akan menyebabkan klaster baru dan penyebaran virus Covid-19 di masyarakat,” kata Afif.

Menurut Afif, untuk kegiatan keagamaan seperti pengajian jelang buka atau bakda subuh dan Kultum diperkenankan dilakukan masyarakat akan tetapi tidak boleh berlama-lama dan tetap mematuhi protokol kesehatan. (El)