Home Lintas Jateng Pemkot Beri Pendampingan Psikolog Siswa SD di Semarang yang Tawuran

Pemkot Beri Pendampingan Psikolog Siswa SD di Semarang yang Tawuran

1189
Wakil walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mendatangi SD Al Khotimah dan menemui siswa yang terlibat tawuran.

Semarang, 25/11 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pendidikan akan memberi pendampingan psikolog terhadap siswa-siswa SD Al Khotimah dan SD Pekunden yang terlibat dalam tawuran. Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu usai mendatangi sekolah dasar Al Khotimah, Jumat (25/11)

“Kami sudah memanggil anak-anak yang diduga bertengkar dan terlibat tawuran. Setelah kami tanya, dari pembicaraan sepertinya (mereka,Red.) tidak melakukan aksi tawuran, untuk itu kami akan panggilkan psikolog untuk mengeksplore dan mendalami karakter mereka,” ujar Ita–sapaan akrab Hevearita.

Dari hasil pertemuan dengan pihak sekolah, dinas pendidikan dan kepolisian, lanjut Ita, pihaknya akan melakukan penyelidikan dengan melihat kamera pengawas atau CCTV di sejumlah tempat.

“Dari hasil pertemuan, kepolisian akan melihat kronologis dari kamera CCTV yang terpasang baik CCTV Lalu lintas, Taman Pandanaran, maupun CCTV sejumlah toko,” katanya.

Menurutnya, pendampingan psikolog dan monitoring melalui CCTV diharapkan dapat mengetahui kebenaran cerita siswa dan meluruskan berbagai opini yang beredar di berbagai media.

Wakil walikota Senarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berbincang dengan siswa SD Al Khotimah yang diduga terlibat tawuran.
Wakil walikota Senarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berbincang dengan siswa SD Al Khotimah yang diduga terlibat tawuran.

“Ada beberapa versi cerita, dari anak-anak yang tertangkap sesaat sebelum tawuran mengaku mereka datang ke SD Pekunden untuk menemui temannya, tapi tadi pihak keamanan menyampaikan info kalau ada anak perempuan yang mau dihadang dari siswa SD Al Khotimah,” imbuhnya.

Ita mengiyakan bahwa dua siswa SD Al Khotimah berinisial B dan A yang membawa ikat pinggang berujung besi, namun mereka mengklaim jika ikat pinggang tersebut digunakan untuk mencari ikan. “Kalau untuk parangnya, anak-anak mengaku tidak membawa parang tersbut. Itu (parang,Red.) dari teman lain yang tidak mereka kenal,” imbuh Ita.

Ita menghimbau pada kedua kepala sekolah untuk terus mengawasi anak didiknya. “Kami minta pihak sekolah mensosialisaikan ke wali murid, kami juga minta pada kepala sekolah untuk mewajibkan orang tua menjemput anak-anak sepulang sekolah. Orang tua harus diikutsertakan dalam segala kegiatan anak. Melihat segala permasalahan para pelajar yang terjadi di Kota Semarang. Pemkot berencana membuat ‘Rumah Duta Revolusi Mental’ yang didalamnya terdapat parenting, pendampingan, dan melayani berkebutuhan psikolog dan kejiwaan anak,” ujar Ita.

Sementara itu, Ketua Yayasan AL Khotimah, Munawaroh mengaku mempercayai cerita dan perkataan peserta didiknya ketimbang berita yang beredar di berbagai media. “Sabuk (ikat pinggang,Red.) itu kan mereka gunakan buat gebuk ikan di taman Pandanaran. Kami masih tunggu kebenarannya, yang pasti siswa tidak akan diberi sanksi, apalagi masih dibawah umur,” jelasnya. (Bj05)