Home Ekbis Pemerintah Diminta Antisipasi Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru

Pemerintah Diminta Antisipasi Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru

SEMARANG, 30/11 (beritaJateng.Net) – pergerakan harga kebutuhan pokok jelang Natal dan Tahun Baru hampir bisa dipastikan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Oleh karena itu pemerintah Provinsi Jawa Tengah diminta mengantisipasi agar harga harga kebutuhan pokok tidak melonjak terlalu tinggi.

Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah Mifta Reza NP mengungkapkan, melonjaknya harga kebutuhan pokok selalu terjadi setiap perayaan lebaran maupun Natal dan Tahun Baru. Oleh karena itu karena sudah menjadi kebiasaan bertahun tahun, maka pemerintah harus bisa mengantisipasi kejadian tersebut.

“Ini sudah menjadi semacam pola yang terjadi berulang ulang, saya harap pemprov bisa mengantisipasi hal seperti ini,” ungkapnya dalam rapat koordinasi persiapan Natal dan Tahun Baru di Komisi B DPRD Jawa Tengah, Rabu (30/11).

Selain itu, jelas Reza, panjangnya rantai distribusi menjadi salah satu sebab tingginya harga komoditas tersebut. Reza minta kepada para peternak agar membuat asosiasi dan menggunakan sistem ekonomi berbasis digital untuk memasarkan produksinya.

“kalau mereka bisa membuat asosiasi dan menggunakan sistem ekonomi berbasis digital, maka jalur distribusi bisa dipangkas. Dengan sendirinya harga di pasaran bisa ditekan,” jelasnya.

Penggunaan sistem ekonomi digital ini juga harus didukung oleh pemerintah dengan mengeluarkan Perda Sistem Ekonomi Digital dimana bisa mendatangkan PAD di Jawa Tengah. Ini merupakan penjabaran dari Undang Undang ITE yang saat ini sudah ada,

“Dengan sistem ini semuanya diuntungkan baik pelaku usaha maupun pemerintah yang ujung ujungnya juga untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu pemilik peternakan ayam petelor Setia Farm Sukorejo Kendal, Edi Siswanto mengatakan, kenaikan harga telor yang terjadi setiap hari raya keagamaan seperti Natal dan Tahun Baru merupakan berkah bagi para peternak, namun selisih kenaikan yang diterima peternak tidak besar.

“Sebenarnya yang diuntungkan dengan kenaikan ini lebih banyak adalah para pengepul dan pedagang. Kalau peternak hanya sedikit keuntungannya,” katanya.

Selama ini, jelas Edi, pihaknya sering hanya bisa menjual maksimal senilai dengan harga produksi (BEP) yakni sebesar Rp, 18.000,- bahkan saat ini harga di kandang hanya sebesar Rp. 16.200,- Sementara pada Natal dan Tahun Baru besok diprediksi harganya akan naik di kisaran Rp. 22.000,-

(NK)

Advertisements