Home Nasional Pemerintah Berencana Gunakan KA Distribusikan Bahan Pokok

Pemerintah Berencana Gunakan KA Distribusikan Bahan Pokok

images(43)

Jakarta, 21/11 (Beritajateng.net) – Pemerintah berencana menggunakan moda transportasi kereta api untuk mendistribusikan bahan kebutuhan pokok guna memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi permasalahan dan menyebabkan harga barang tersebut tinggi.

“Saya dengan Menteri Perhubungan akan membahas logistik itu sendiri, bagaimana memanfaatkan jalur kereta api agar lebih cepat dan memotong biaya distribusi,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel seusai melakukan kunjungan ke Pasar Klender SS di Jakarta, Jumat.

Menurut Rachmat, rencana tersebut akan segera dibicarakan dengan pihak terkait untuk bisa segera dilaksanakan. Namun, tentunya harus ada berbagai persiapan untuk mendukung rencana tersebut, seperti adanya gudang dan fasilitas lainnya.

“Jalur distribusi ini kami bicarakan sama-sama. Mungkin jika pakai kereta api itu juga harus ada gudang yang harus disiapkan untuk tempat penampungan. Pada tahun depan harus bisa berjalan,” ujar Rachmat.

Rachmat mengatakan bahwa saat ini biaya untuk melakukan distribusi bahan kebutuhan pokok terbilang relatif sangat besar, persentasenya berada pada kisaran 17–20 persen. Oleh karena itu, pihaknya akan mempelajari jalur logistik dari pertanian ke pasar konsumen.

“Biayanya sangat besar, bisa 17–20 persen, dan jika ada jalan macet atau jembatan rusak itu juga akan menambah biaya. Oleh karena itu, kenapa saya harus mempelajari jalur logistik dari pertanian ke pasar dan harus dibahas sama-sama?” ujar Rachmat.

Saat ini, menurut dia, biaya logistik Indonesia sudah sangat tinggi, yakni mencapai 25–30 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Biaya logistik Indonesia merupakan salah satu yang termahal di kawasan ASEAN. Berdasarkan Logistics Performance Index 2014 yang dikeluarkan Bank Dunia, kinerja logistik Indonesia berada di peringkat 53 dunia.

Peringkat Indonesia tersebut jauh di bawah Singapura yang berada di posisi kelima dunia. Kemudian, Malaysia di peringkat 25, Thailand (35), dan Vietnam (48).(ant/pj)