Home Lintas Jateng Pemberlakuan Sistem Satu Arah Diprotes Warga Laweyan

Pemberlakuan Sistem Satu Arah Diprotes Warga Laweyan

601
Pimpinan Ponpes Takmirul, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, M Ali Naharrusyurur bersama warga Laweyan memprotes pemberlakuan Sistem Satu Arah.

SOLO, 4/6 (BeritaJateng.net) – Pemberlakuan sistem satu arah (SSA) menuai protes dari masyarakat Laweyan. Warga meminta dengan tegas agar Pemerintah Kota (Pemkot) mencabut sistem satu arah (SSA) yang diberlakukan di tersebut sejak pertengahan April lalu.

Pimpinan Ponpes Takmirul, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, M Ali Naharrusyurur -biasa dipanggil mbah Ali menjelaskan penerapan sistem satu arah (SSA) justru meresahkan masyarakat. Kendaraan melintas dengan kencang, warga menjadi takut untuk menyeberang jalan. Orang tua menjadi resah jika anaknya akan sekolah.

“Jalan di kampung yang sempit biasanya ramai anak bermain, namun saat ini justru dipenuhi kendaraan bermotor yang mencari jalan pintas,” jelas Mbah Ali, Sabtu (4/6/2016).

Mbah Ali juga menyebut ibu dan anak enggar ke langgar ikut pengajian karena takut menyeberang jalan yang semakin ramai.

Seperti yang diungkapkan Mbah Ali penerapan SSA justru memicu terjadinya kecelakaan karena mereka memacu kendaraannya sangat kencang membuat kendaraan yang lewat semakin memacu kecepatannya dan memicu terjadinya kecelakaan.

“Kita minta pemberlakuan SSA segera dicabut dan dikembalikan seperti semula,” ungkap Mbah Ali.

Kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) yang diterapkan Pemkot Solo, yakni di jalan Dr. Rajiman (bunderan Baron hingga simpang Jongke), Jl Agus Salim dan Jl Perintis Kemerdekaan.

Akhirnya warga mengajukan protes dengan memblokir jalan, selama Pemkot Solo tidak mau mencabut aturan penerapan satu arah ini. Penerapan itu tidak melalui kajian yang mendalam.

Selain itu sejak diberlakukan SSA kenyataanya jalan di kota Solo semakin macet. Artinya justru kebijakan itu dirasa tidak efektif.  Peningkatan volume kendaraan itulah yang menyebabkan SSA diberlakukan.

“Kami telah melakukan protes pada pemerkntah kota Solo. Malah mereka tidak nguwongke (memanusiakan) kami,” pungkas Mbah Ali. (Bj24)

Advertisements