Home Ekbis Pemberlakuan Jalan Searah Di Semarang, Omset Pedagang Turun Drastis

Pemberlakuan Jalan Searah Di Semarang, Omset Pedagang Turun Drastis

Semarang, 24/2 (BeritaJateng.net) – Pemberlakuan jalan searah di beberapa ruas jalan di Kota Semarang yang dimulai sejak Januari 2017 dikeluhkan sejumlah pedagang di kawasan jalan itu karena omzetnya menurun.

“Sejak jalan sini dibuat searah, penghasilan saya turun. Ya, mau bagaimana lagi. Kalau dirata-rata, turunnya kisaran 50 persen,” kata Agung, pedagang nasi ayam di Jalan M.T. Haryono Semarang, Jumat.

Pemberlakuan jalur searah dilakukan dalam tiga tahap, pertama di Jalan Veteran, Jalan dr. Kariadi, Jalan Menteri Supeno, dan Jalan M.T. Haryono, kemudian Jalan Gajahmada, Jalan M.H. Thamrin, dan Jalan Ahmad Dahlan pada tahap kedua.

Tahap ketiga yang merupakan tahap terakhir, pemberlakuan jalur searah disempurnakan di tiga jalan lainnya, yakni Jalan Pemuda melintasa Balai Kota Semarang, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Pierre Tendean.

Agung yang sudah berjualan di Jalan M.T. Haryono selama 7 tahun menyebutkan omzet kotornya dalam sehari bisa sampai Rp1 juta s.d. Rp1,3 juta/hari. Akan tetapi, sejak jalan diberlakukan searah hanya Rp700 ribu s.d. Rp800 ribu/hari.

Demikian halnya diungkapkan Iful Bahri, pedagang soto lamongan yang mangkal di jalan yang sama juga mengeluhkan omzetnya berkurang karena sekarang mentok Rp600 ribu/hari, padahal semula bisa Rp900 ribu s.d. Rp950 ribu/hari.

Dampak dari pemberlakuan jalur searah dengan usahanya, kata dia, dimungkinkan dari akses pembeli yang kesulitan menuju warungnya karena harus memutar jauh, dan kemungkinan belum banyak yang mengetahui kebijakan itu.

Namun, Iful yang sudah enam tahun berjualan di jalan itu berharap seiring dengan makin terbiasanya masyarakat terhadap pemberlakuan jalur searah itu bisa membuat pendapatannya normal kembali seperti biasa.

“Ya, kami akui memang kemacetan lalu lintas di sini sudah berkurang. Tidak seperti dulu pas masih dua arah. Mudah-mudahan juga masyarakat makin terbiasa sehingga tak memengaruhi usaha kami,” harapnya.

Berbeda dengan Hartati, pedagang kaki lima yang berjualan di Jalan Gajahmada Semarang yang sejak penerapan jalur searah sampai sekarang tidak berdampak terhadap pendapatannya dari berjualan minuman itu.

“Biasa saja. Dari sebelumnya dua arah sampai jadi searah ini, ya, tetap biasa. Tidak kurang, tidak naik,” kata perempuan yang sudah 3 tahun berjualan di tempat itu tanpa mau menyebut omzet yang diraupnya. (El)

Advertisements