Home Headline Pemberantasan Peredaran Miras Dituding Tidak Serius

Pemberantasan Peredaran Miras Dituding Tidak Serius

Miras Kudus

Kudus, 3/3 (Beritajateng.net)-Aliansi Umat Islam (AUI) Kabupaten Kudus menyayangkkan masih maraknya peredaran minuman keras (miras) di wilayah Kudus. Dengan masih maraknya peredaran minuman beralkohol tersebut, AUI menilai penegakan hukum terhadap penjual dan pembeli miras masih jauh dari harapan.

Ketua Umum AUI, Slamet Riyadi melalui rilis yang dikirim kepada Beritajateng.net menyatakan, Kabupaten Kudus yang identik dengan Kota Santri, telah tercoreng dengan adanya perdagangan ’barang haram’ minuman keras. Baik yang diedarkan secara terang-terangan, tahu sama tahu (TST), ataupun sembunyi-sembunyi.

”Kami menduga miras banyak diperjual belikan di hotel mulai kelas melati hingga berbintang. Bahkan, ada dugaan kuat ada yang diperjualbelikan di warung ataupun rumahan,” jelasnya.

Dengan masih maraknya miras di wilayah Kudus, pihaknya berharap aparat penegak hukum baik Polres maupun Sat Pol PP bekerja menegakkan perundangan yang ada.

Larangan peredaran miras di Kudus,menurutnya sudah jelas seperti yang diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kudus nomor 12 tahun 2004 tentang Minuman yang boleh diperjual belikan di wilayah Kudus Kadar Alkohol Nol Persen.

Selain itu, lanjutnya,  Perda tersebut juga didampingi Peraturan Bupati Kudus nomor 17 tahun 2005 tentang Pelaksanaan Perda nomor 12 tahun 2004. Hanya, dalam aturan tersebut sanksi yang diberikan sangat ringan yakni tindak pidana ringan (tipiring).

”Tetapi sanksi berat bisa ditegakkan melalui KUHP dalam pasal 240 ayat (2) disebutkan seseorang yang menjual sesuatu yang sifatnya berbahaya dan menyebabkan kematian akan dihukum penjara hingga 20 tahun. Serta UU Pangan nomor 18 tahun 2012 dengan sanksi maksimal 5 tahun penjara,” jelasnya.

Artinya, lanjutnya, jika aparat penegak hokum baik Polres maupun Pol PP mau serius melakukan pemberantasan ada jeratan pasal yang bisa membuat penjual atau pembeli menjadi jera.

Akan tetapi, jika penegak hukum melakukan penindakan secara sporadis, maka pelaku peredaran miras akan terus bermunculan.

”Secara ekonomi, berjualan miras memang menjanjikan keuntungan yang sangat menggiurkan. Semakin dilarang dan kenjadi sulit dicari, harga jualnya menjadi mahal dan keuntungan yang didapat menjadi berlipat,” paparnya.

Slamet Riyadi mengacungi jempol terkait keberhasilan Polres Kudus mengungkap perdagangan miras di wilayah Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu dan menyita 5.187 botol miras dari berbagai merek.

Dia berharap, operasi semacam itu dijadikan agenda rutin, bukan sekedar pekerjaan untuk memenuhi target laporan.

”Terus terang kami sangat mendukung langkah polisi melakukan pemberantasan peredaran miras di Kudus,” tandasnya. (BJ12)