Home Headline Pembangunan Apartement Marquis de Lafeyette Dikeluhkan Warga

Pembangunan Apartement Marquis de Lafeyette Dikeluhkan Warga

Salah seorang warga menunjukkan rumahnya yang retak akibat pembangunan apartemen.
Salah seorang warga menunjukkan rumahnya yang retak akibat pembangunan apartemen.

Semarang, 24/2 (BeritaJateng.net) – Pembangunan Marquis de Lafeyette Apartemen sekaligus condotel di kota Semarang kembali dikeluhkan masyarakat sekitar. Sekitar 20 rumah warga RT 07 RW 02 Kelurahan Pandansari Semarang mengalami retak-retak, bahkan plavon rumah juga banyak yang berjatuhan karena getaran saat proses konstruksi pembangunan apartemen yang hanya berjarak 2 meter dari pemukiman warga.

Warga setempat, Suwarno (50) harus menerima kenyataan jika keramik yang berada diterasnya runtuh karena dampak proyek pembangunan apartemen tersebut. Lebih dari itu, kekhawatiran muncul karena beberapa plavon dan dinding juga mengalami retakan-retakan.

“Jadi khawatir kalau sewaktu-waktu rumah roboh, karena getaran dan suara yang ditimbulkan bukan hanya mengganggu kenyamanan warga namun juga mengakibatkan dinding, plavon dan keramik retak dan pecah,” ungkapnya.

Menurutnya, Getaran yang ditimbulkan saat ini sudah sedikit terkurangi.

“Kalau dulu, jelas mengganggu, bahkan proyek yang dikerjakan hingga larut malam, kan jelas mau istirahat jadi terganggu,” tambahnya.

Ia menambahkan, pihaknya beberapa kali telah melayangkan protes ke pihak kontraktor bangunan namun hingga kini belum ada respon. Selain merasa dirugikan lantaran banyak bangunan rumah yang mengalami keretakan, ia berharap pihak warga ditemukan secara langsung dengan pihak kontraktor.

“Sudah sebulan sejak pembangunan belum ada petugas dari kontraktor yang beritikad baik memperbaiki rumah warga yang retak-retak, padahal ya kalau di tengok, diganti semen dan pasir untuk memperbaiki kami sudah seneng,” lanjutnya.

Sama halnya dengan Suwarno, Tri Handayani (43) juga mengungkapkan hal yang sama. Rumah yang ditempatinya juga mengalami retakan-retakan pada dinding yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa. Menurutnya, proyek tersebut benar-benar mengganggu istiraha warga, bahkan dilakukan 24 jam non stop.

“Kasian yang punya anak kecil, seperti tetangga saya ini, setiap kali tidur selalu kaget karena kerasnya suara dan getaran bising proyek setiap malam. Padahal sudah pernah mengingatkan untuk menyudahi pekerjaan hingga pukul 21.00,” tutur Tri.

Sementara itu, Ketua RT 7 RW 2, Rahman Abdullah menjelaskan bahwa selama ini pihak pemilik hanya memberikan kompensasi Rp 500 ribu per Kepala Keluarga. Pihaknya juga telah mengadu kepada pemilik apartemen tersebut perihal beberapa keluhan warga.

“Kita sudah memberikan keluhan tersebut ke pihak kontraktor. Memang beberapa rumah yang sudah diperbaiki, namun yang lain sampai saat ini belum. Yang rusak karena jalannya proyek tersebut sebanyak 20 rumah,” lanjutnya.

Ia mengaku jika sebelumnya telah diberikan sosialisasi dari pihak pemilik Marquis de Lafeyette apartemen, namun memang saat sosialisasi tersebut tidak melibatkan semua warga di RT itu.

“Waktu sosialisasi pertama di Badan Lingkungan Hidup (BLH) saya diundang ke sana. Harapan kita yang jelas kesejahteraan warga bisa terjamin dengan adanya apartemen ini,” lanjutnya.

Dijelaskan Rahman, pada sosialisasi tersebut dilakukan kesepakatan jika pengerjaan proyek dilakukan hingga pukul 22.00 malam. Oleh karena itulah ia menyesalkan pemilik apartemen yang tidak konsisten dengan perjanjian itu, sehingga melakukan pengerjaan selama 24 jam non stop.

“Dulu di BLH tahun 2014 ada perjanjian jika sore selesai, namun kini malah 24 jam. Kita berharap maksimal pukul 22.00 malam sudah selesai. Untuk itu warga sangat merasa terganggu dengan pengerjaan proyek itu,” lanjutnya. (BJ05)