Home Headline PDI Perjuangan Beri Penghargaan Insan Wayang

PDI Perjuangan Beri Penghargaan Insan Wayang

315

SEMARANG, 17/11 (Beritajateng.net) – Sebanyak 7 orang pegiat Wayang dan 8 lembaga pelestari Budaya Wayang, Sabtu (16/11) malam menerima penghargaan dari DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah. Penghargaan tersebut diberikan karena dedikasi mereka dalam melestarikan Budaya Wayang yang saat ini sudah diakui sebagai budaya dunia oleh Unesco.

Penghargaan diberikan pada Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk di Lapangan Simpanglima Semarang dengan menampilkan Dalang Kondang Ki Manteb Soedharsono yang mengusung lakon Bima Bangkit. Pagelaran tersebut dilaksanakan sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Wayang Nasional yang jatuh pada tanggal 7 November.

Ketujuh orang yang mendapat penghargaan adalah Nyi Ngatirah (Semarang), Ki Sunarno (semarang), Ki Suradji Hadi Kusumo (Semarang), Ki Noto Carito (Klaten), Reso Wiguno Dakir (Sukoharjo), Ki Manteb Soedharsono (Karanganyar) dan Heru Sudjarwo (Banyumas). Sedang kedelapan lembaga yang konsen pada perkembangan wayang adalah Ngesti Pandowo (Semarang), Puji Langgeng (Semarang), Sanggar Sarotomo (Karanganyar), Suko Raras (Semarang), Teater Lingkar (Semarang), Sri Wedari (Semarang), Sobokarti (Semarang) dan Pepadi (Jawa Tengah).

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah Bambang Wuryanto mengatakan, para pegiat kebudayaan Wayang memiliki jasa besar dalam melestarikan wayang. Atas jasa mereka salah satu budaya asli Indonesia ini akhirnya diakui dunia internasional.

“Jerih payah mereka kita hargai dong, tanpa mereka mereka ini mungkin kepunaham wayang berlangsung lebih cepat,” katanya disela sela pagelaran.

Pria yang akrab disapa Bambang Pacul ini menjelaskan, Wayang merupakan sebuah orkestra yang luar biasa dengan gamelan dari logam yang sudah tercipta sejak abad 16. Pewayangan merupakan contoh karakter orang yang pada hari ini sudah mulai terkikis. Misalnya karakter seorang Bima, Kresna atau Kumbokarno dan masih banyak karakter lainnya.

“Hari ini kita sudah tidak terlalu banyak kenal karakter. Saat ini kita lebih bicara hal hal yang sifatnya praktis hal hal yang pragmatis,” jelasnya.

Menurut Pacul, saat ini banyak orang sudah tidak care lagi dengan dunia wayang. Saat ini banyak yang tidak berminat menonton wayang akibat gempuran budaya asing dan dampak perkembangan teknologi. Sangat sedikit orang yang masih mau nonton pagelaran wayang sampai semalam suntuk,

“Kita lakukan upaya untuk mengingatkan kembali bahwa kita punya warisan sebuah budaya yang sungguh luar biasa dan diakui dunia. Wayangnya sendiri sekaligus orkestra yang menyertai sebuah wayang,” bebernya.

Dengan pagelaran Wayang, PDI Perjuangan ingin menciptakan awarness, kesadaran kembali bahwa kita punya warisan budaya yang hebat dan diakui dunia, bahkan kalau ditelisik lebih ke dalam, wayang bisa menjadi way off life. Kemajuan negara negara maju seperti Jepang dan Cina karena masyarakatnya memiliki karakter.

“Bung Karno pernah mengatakan jangan bangun apapun sebelum karakternya terbangun,” urainya.

Ketua Panitia peringatan Hari Wayang Nasional DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah Sumanto mengatakan, Lakon Bima Bangkit merupakan representasi dari satria yang bisa merangkul semua komponen bangsa, semua rakyat untuk bisa memajukan bangsa.

Pagelaran Wayang Kulit tersebut mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat Semarang. Sekitar seribu lebih masyarakat terdata menyaksikan dan mengambil kupon doorprice berupa sepeda motor sebanyak 10 buah.

(NK)