Home Lintas Jateng Pakar : Korban “Kuburan Plumbon” Patut Dimakamkan Ulang

Pakar : Korban “Kuburan Plumbon” Patut Dimakamkan Ulang

Semarang, 16/12 (Beritajateng.net) – Pakar sejarah sosial Universitas Negeri Semarang Prof Wasino mengatakan, korban peristiwa 1965 yang dikuburkan massal di Kampung Plumbon, Semarang patut dimakamkan ulang secara layak .

“Secara kemanusiaan, ya, diperlukan. Terlepas dari mereka terlibat atau tidak dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebab, situasi ketika tahun 1965 itu kan memang serba sulit,” katanya di Semarang, Selasa.

Hal tersebut diungkapkan Guru Besar Unnes itu, saat diskusi “Misteri Kuburan Plumbon; Mengungkap Tabir Kuburan Massal Eks PKI” yang berlangsung di Gedung Pusat Informasi Publik (PIP) Kompleks Balai Kota Semarang.

Ia menyatakan keyakinannya bahwa tidak semua orang yang dikubur secara massal di Kuburan Plumbon yang terletak di Kampung Plumbon, Wonosari, Ngalitan, Semarang, itu, terlibat PKI, jika melihat situasi yang terjadi pada 1965.

“Masa itu (1965, red.) situasi serba sulit dan kacau. Kalau saya tak senang pada seseorang, misalnya, bisa asal nunjuk dan mengatakannya anggota PKI,” kata penulis “Modernisasi di Jantung Kebudayaan Jawa” itu.

Wasino mengatakan para korban peristiwa 1965 yang dimakamkan secara massal di Kuburan Plumbon maupun di tempat lain perlu dimakamkan kembali secara layak dan kalau perlu melibatkan peran ormas Islam.

“Saya rasa nanti pemakaman ulang itu bisa dipimpin oleh tokoh agama, dari unsur ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU). Apalagi, selama ini Kuburan Plumbon kerap dituju untuk mencari peruntungan,” katanya.

Koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) Yunantyo Adi S. menjelaskan keberadaan Kuburan Plumbon sebagai kuburan massal eks-PKI sebenarnya sudah diketahui banyak pihak.

“Termasuk, masyarakat sekitar. Bahkan, ada beberapa keluarga korban yang selama ini rutin berziarah di makam itu yang semakin menguatkan bahwa Kuburan Plumbon merupakan kuburan massal korban 1965,” katanya.

Menurut kesaksian warga setempat, kata dia, setidaknya ada tiga versi jumlah korban yang dimakamkan secara masal di tempat itu, yakni versi pertama 24 orang, kemudian 21 orang, dan versi ketiga 12 orang.

Meski sudah banyak yang mengetahui perihal kuburan massal korban 1965, Yunantyo mengatakan sampai sekarang belum ada wacana memakamkan kembali para korban secara layak sebagai bentuk memanusiakan manusia.

“Kami sudah menyurati Komisi Nasional (Komnas) HAM dan sudah ada respons. Memang, untuk membuktikan apakah benar itu anggota PKI atau bukan harus ada tes DNA, dan prosesnya tentu masih lama,” katanya.(ant/ss)

Advertisements