Ratusan Jamaah Ikuti Haul KH Shodaqoh Hasan di Ponpes Al Itqon

Ratusan jamaah mengikuti haul KH Shodaqoh Hasan dan Nyai Hj. Hikmah di Pondok Pesantren Al Itqon Bugen, Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (14/4) malam.

Haul dipimpin oleh putra-putra KH Shodaqoh Hasan, yaitu KH Ahmad Harist Shodaqoh, KH Abdul Malik Shodaqoh (pembacaan doa), KH Mu’tashim Shodaqoh (pembawa acara), KH Ahmad Fauzi Shodaqoh (pembacaan surah Yasin) dan KH Ubaidullah Shodaqoh (pembacaan tahlil).

Haul berlangsung setelah isya. Sementara jamaah sudah datang di lokasi haul di halaman Ponpes Al Itqon, sejak setelah maghrib. Mereka berasal tidak hanya dari Semarang, namun juga dari Demak, Kendal, Jepara dan Kudus.

 

Siapakah KH Shodaqoh Hasan?

Sebelum mengenal KH Shodaqoh Hasan kita mulai dulu dari cikal bakal berdirinya Ponpes Al Itqon.

Dikutip dari kasatmata.com, sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Itqon tidak lepas dari kondisi wilayah Bugen itu sendiri. Bugen adalah desa yang masuk Kepatihan Singosari yang memiliki lurah bernama Kasma Wijaya.

Waktu itu kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Bugen begitu memprihatinkan, terlebih lagi kesadaran beragama masih sangat rendah. Masyarakat Desa Bugen belum mengenal syariat agama Islam.

Pada tahun 1888 M, Lurah Desa Bugen Kasma Wijaya meminta Syekh Abu Yazid untuk tinggal dan mendakwahkan agama Islam di Desa Bugen. Syekh Abu Yazid merupakan ulama dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ia memiliki istri bernama Nyai Rohmah, putri dari Kiai Abdur Rosul.

Syekh Abu Yazid mendatangi Desa Bugen dan menyatakan kesiapannya untuk berdakwah. Sebagai langkah awal yang dilakukan Syekh Abu Yazid yakni dengan mendirikan masjid.

Syekh Abu Yazid mendirikan masjid dengan memanfaatkan rumah pemberian Lurah Kasma Wijaya. Ia sendiri yang memegang pengelolaan dan menjadi imam.

Masjid itu kini bernama Masjid Baitul Latif, yang notabene masjid pertama kali di Desa Bugen.

Sepeninggalan Syekh Abu Yazid, periode kedua dakwah di Desa Bugen digantikan putranya yakni H. Syakur atau Kiai Abu Darda, dan sekaligus menjadi imam masjid.

Pada tahun 1911 Kiai Abu Darda meninggal dunia, ia meninggalkan anak di antaranya Nyai Khoiriyyah yang menikah dengan KH. Abdurrasyid dari Demak.

Periode ketiga dakwah di Bugen dilanjutkan menantu Kiai Darda yakni KH. Abdurrasyid yang menggantikan mertuanya sebagai imam masjid.

Periode selanjutnya diteruskan KH. Abdurrasyid yang mengampu masjid, dan dari tangan beliau inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren di Bugen.

Pondok pesantren asuhan KH. Abdurrasyid belum memiliki nama, sementara santrinya kebanyakan dari Banjarmasin, yang merupakan daerah asal Syekh Abu Yazid.

Abdurrasyid mengajarkan beragam kitab-kitab kuning. Sedangkan dalam ilmu tasawuf KH. Abdurrasyid mengikuti tarekat Naqsyabandiyah yakni tarekat yang didirikan Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi.

Keilmuan KH. Abdurrasyid menonjol pada ilmu tasawuf dibandingkan kajian kitab-kitab kuning. Sehingga tidak heran jika saat ini papan nama Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen memakai kata ‘Pasulukan’, para santri selain diajarkan syariat dengan ajaran kitab-kitab kuning, juga diajarkan suluk yakni jalan spiritual mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Kemudian periode kedua Pondok Pesantren Al Itqon diasuh KH. Shodaqoh Hasan, yang menikahi putri KH. Abdurrasyid, Nyai Hikmah.

Di bawah asuhan KH. Shodaqoh Hasan pondok pesantren mulai diberi nama. Ia memberi nama Pondok Pesantren Al-Irsyad. Pemberian nama ini sebagai upaya KH. Shodaqoh Hasan untuk memperkenalkan bahwasanya pondok pesantren adalah milik umat Islam dan berupaya memperluasan kebermanfaatan peran pesantren.

Pondok Pesantren Al-Irsyad asuhan KH. Shodaqoh Hasan mulai berkembang dan berupaya memperbaiki sistem dan kurikulum pesantren. Adapun jalan yang ditempuh KH. Shodaqoh Hasan yakni dengan mendirikan Madrasah Diniyah di bawah naungan Yayasan Al-Wathoniyyah.

 

Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen

Cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Itqon tidak dapat lepas dari periode labelisasi nama Pondok Pesantren Al-Irsyad oleh KH. Shodaqoh Hasan. Tercatat Pondok Pesantren Al-Itqon berdiri pada tahun 1374 H / 1953 M.

Di bawah naungan Yayasan Al-Wathoniyyah, Al-Itqon mulai berkembang terutama madrasah diniyah yang waktu belajarnya pada sore dan malam hari. Seiring minat masyarakat terhadap madrasah diniyah dan banyaknya pendaftar maka didirikanlah madarsah ibtidaiyah pada tahun 1964 sedangkan waktu belajarnya pada pagi hari.

Tahun 1988 KH. Shodaqoh Hasan meninggal dunia dan dimakamkan di komplek pondok pesantren. KH Shodaqoh Hasan meninggalkan 13 putra dan putri di antaranya KH. Ahmad Harist Shodaqoh yang saat ini diamanahi menjadi Rais Syuriyah PBNU.

Ubaidullah Shodaqoh yang saat ini menjadi Ketua Syuriah PWNU Jawa Tengah dan KH Sholahuddin Shodaqoh yang pernah mendapatkan amanah menjadi Wakil Rais PCNU Kota Semarang.

Tampuk kepemimpinan atau kepengasuhan Pondok Pesantren Al-Itqon beralih dari KH. Shodaqoh Hasan kepada putranya KH. Ahmad Harist Shodaqoh.

Ahmad Harist Shodaqoh mulai mengkhususkan terhadap pelajaran-pelajaran pondok pesantren yang mulanya bernama Al-Irsyad menjadi Ma’had Tafsir dan Sunnah Al-Itqon.

Terlebih lagi pada bidang tafsir KH. Ahmad Haris Shodaqoh mengasuh Majelis Ta’lim Ahad Pagi yang mengkaji Tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa, jamaahnya lebih dari 15.000 orang dari berbagai daerah.

Hingga saat ini pesantren tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen dan di bawah asuhan KH. Ahmad Harist Shodaqoh Pondok Pesantren Al-Itqon berkembang pesat.

Pondok Pesantren Al-Itqon mulai melebarkan sayapnya seiring berdirinya lembaga-lembaga pendidikan mulai raudhotul athfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA) hingga ma’had aly.

Begitu juga lembaga pendidikan diniyyah salafiyyah dari berbagai tingkatan dengan mengupayakan dan melestarikan nilai-nilai pendidikan pesantren, budaya Jawa, dan pengkajian kitab karya ulama salaf. Terlebih lagi warisan kitab kuning yang berlandaskan dan bersumber dari Al- Qur’an dan Hadis.

Pondok Pesantren Al-Itqon, dikenal dengan Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen karena berasal dari Desa Bugen.

Sedangkan silsilah pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen diambil dari jalur KH. Shodaqoh Hasan yang memiliki 13 putra putri.

Adapun silsilah tersebut yakni KH. Shodaqoh Hasan putra KH. Hasan Asy’ari putra KH. Muhammad Misbah putra R. Murthodito putra Zamsyari putra R.Wongso Taruna putra R. Bagus Towongso putra R. Satriyan putra Niti Negoro putra R. Santri putra Umar Sa’id (Sunan Muria) putra Raden Syahid (Sunan Kalijaga) putra Raden Sahur atau Tumenggung Wilatikta (Tumenggung Tuban).(bud)

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup