Home Headline Musim Kemarau, 53 Desa di Blora Terdampak Kekeringan

Musim Kemarau, 53 Desa di Blora Terdampak Kekeringan

285
Musim Kemarau, 53 Desa di Blora Terdampak Kekeringan

BLORA, 5/7 (BeritaJateng.net) – Awal musim kemarau di Blora, sejak minggu kemarin sebanyak 6 dari 16 Kecamatan di Blora, mengirimkan data desa yang mengalami kekeringan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora.

Enam dari Kecamatan tersebut yakni dari Kecamatan Banjarejo, Kedungtuban, Bogorejo, Jati, Japah dan Todanan. Rencananya, Agustus ini BPBD akan distribusikan air bersih ke 53 desa yang sudah masuk.

Kepala BPBD Kabupaten Blora Hadi Praseno mengaku, pihaknya menyediakan Rp 418 juta untuk distribusi air bersih kepada desa-desa yang mengalami kekeringan. Diperkirakan ada 164 desa yang bakal terdampak musim kemarau.

Dia menambahkan, pihaknya masih menginventarisir daerah kekeringan. Hingga minggu kemarin baru ada enam kecamatan dengan 53 desa yang melaporkan terdampak kekeringan.

“Dimungkinkan, Minggu ini selesai. Rencana Agustus mulai penyaluran air bersih kepada desa-desa prioritas dan tingkatan level kekeringan yang terjadi,” bebernya.

Hadi Praseno menegaskan, ada enam kecamatan yang sudah mengirimkan data kekeringan. Mulai dari kecamatan Banjarejo, Kedungtuban, Bogorejo, Jati, Japah dan Todanan. Total sementara ada 53 desa.

Sebenarnya, dia memiliki gagasan untuk penyaluran air bersih kepada warga terdampak. Sehingga tidak harus antri. Caranya membeli tangki air dari torren. Bisa yang 25 ribu liter atau lebih.

“Kita tingal droping cepat. Bisa dari BPBD, Relawan dan lainnya. Pembelian tanki pakai dana desa juga bisa. Satu tanki kisaran Rp 8-10 juta untuk kapasitas 5.000 liter,” bebernya.

Menurutnya cara itu lebih efektif. Murah dan awet. Apabila musim kemarau lewat bisa disimpan dan digunakan lagi.

“Kita memang punya potensi cekungan air tanah. Tapi biayanya mahal. Terus membangun tower air dari semen juga biaya tinggi,” ucapnya.

Hadi Praseno menegaskan, musim kemarau perkiran sampai Oktober. Puncaknya Agustus mendatang.

“Makanya, bencana Blora itu rutin. Ada kemarau, Tanah longsor, angin puting beliung dan banjir. Tidak ada yang lain,” jelasnya.

Diketahui bersama, tahun kemarin, ada 145 desa dari 14 kecamatan terdampak kekeringan. Hanya Kecamatan Todanan dan Kradenan yang tidak terdampak. Karena memiliki sumber air cukup dekat. Untuk itu, BPBD selalu gencar dilakukan dropping air bersih. (Her/El)