Home DPRD Kota Semarang Museum Kota Lama Semarang Suguhkan Teknologi dan Suasana Tempo Dulu

Museum Kota Lama Semarang Suguhkan Teknologi dan Suasana Tempo Dulu

Museum Kota Lama Semarang

Semarang, 18/1 (BeritaJateng.tv) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menilai proses pengisian Museum Kota Lama Semarang sudah tergarap dengan bagus. Museum ini menjadi museum pertama yang mengusung teknologi imersif.

Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Swasti Aswagati mengatakan, progres pengisian museum sudah 90 persen. Operasional tinggal menunggu perizinan dan peresmian.

Dia berharap, museum ini bisa memelihara budaya Kota Semarang serta menjadi satu destinasi yang rapat menggaet wisatawan.

“Menurut kami sudah bagus, tinggal merapikan sedikit. Secara konsep, isi, sudah bagus,” ujar Asti, sapaannya, usai meninjau Museum Kota Lama, Selasa (18/1/2022).

Namun demikian, lanjut Asti, masih ada catatan yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kota Semarang yaitu lahan parkir.

Pasalnya, kawasan Jurnatan atau bundaran Bubakan ini merupakan kawasan ramai. Terlebih, ditambah adanya museum di tengah bundaran. Tentu, hal ini akan menambah keramaian di kawasan tersebut.

“Disbudpar menyampaikan sudah komunikasi dengan Bank Jateng, nanti rencana lahan parkir di lahan Bank Jateng,” katanya.

Selain di lahan Bank Jateng, menurutnya, kantong parkir bisa memakai kawasan Kota Lama. Hanya saja, perlu edukasi kepada wisatawan untuk berjalan kaki.

“Kalau pakai kantong parkir di Kota Lama bisa. Budayanya, masyarakat jalan kaki tidak ada satu kilometer, hanya sekitar 500 meter atau bisa menggunakan angkutan umum,” imbuhnya.

Senada, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo menambahkan, lahan parkir menjadi hal yang perlu dipikirkan. Dia mendorong pembangunan kantong parkir di kawasan museum segera dilakukan. Apalagi, akses dari kantong parkir menuju museum sudah dibuat taman.

Itu tentu akan memudahkan pengunjung. Terkait dengan isi museum, menurutnya, perlu ada sentuhan tradisi yang kuat.

“Tadi kontennya sudah cukup tapi tinggal membuat konteks agar itu menunjukan museum. Kalau tidak pinter membuat konteksnya itu kaya lihat film di TV,” ujarnya. (Ak/El)