Home Nasional Mudik Gratis Sido Muncul Sebagai Amal Jariyah

Mudik Gratis Sido Muncul Sebagai Amal Jariyah

Dirut Sido Muncul Sofyan Hidayat.

Jakarta, 30/6 (BeritaJateng.net) – Perjuangan Sido Muncul untuk mengawali Mudik Gratis ternyata tidak seperti yang dibayangkan, membutuhkan perjuangan dan kerja keras.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul TBK Sofyan Hidayat di ruang kerjanya, Kamis. Sofyan mengatakan, pada tahun 1971 tim Sido Muncul harus berjuang keras untuk membuka jalan pasar produk Sido Muncul seperti Pegal Linu, Tolak Angin dan lainnya.

“Pada saat itu sekitar tahun 1971, kita susah banget untuk mengenalkan produk Sido Muncul, karena di toko-toko, warung-warung dikuasai oleh produk jamu lain,” terang Sofyan Hidayat.

Sofyan Hidayat menceritakan, untuk membuka pasar, pihaknya bukan saingan produk melainkan memberikan pelajaran dan pemahaman supaya orang menjadi pintar dan menjadi dokter dengan memahami khasiat jamu.

“Kita kasih pelajaran kepada mereka (penjual jamu) supaya pintar dan memahami khasiat jamu, awalnya susah banget karena mereka tidak berani memasarkan produk Sido Muncul,” tuturnya.

Namun demikian, pihaknya dan tim tidak surut semangatnya untuk menguasai pasar. Bergerak bersama untuk tetap memberikan pelajaran kepada penjual.

“Bahkan para penjual tidak berani mengganti layar-layar dengan Sido Muncul karena mereka takut dengan jamu yang lain, dia berani mengganti dengan kompensasi tertentu tapi ketika kita pergi mereka mengganti lagi,” tambahnya.

“Meski begitu tim terus melakukan pendataan perkembangan penjualan, awalnya produk lain 10 Sido Muncul 1, berkembang menjadi 7 berbanding 3, dan terus berkembang dan akhirnya menjadi kebalikannya, kita menguasai pasar,” tuturnya lagi.

Mengenai mudik gratis, perusahaan yang lain menawarkan mudik gratis tapi harus membeli berapa karton, dan saat itu Sido Muncul baru saja merintis tapi Sofyan Hidayat berani memberikan mudik gratis tanpa syarat apapun.

“Waktu itu saya berani memberikan mudik gratis tanpa syarat apapun dengan niat amal jariyah. Dan saat itu mereka saya kasih bus dan dikoordinir oleh mereka sendiri,” ujarnya.

Pertama kali mudik gratis tahun 1991 dengan 25 bus, padahal menurut Sofyan pada saat itu Sido Muncul belum punya apa-apa dan masih merintis. Namun dengan niat baik, akhirnya kurang lebih 10 tahun berjuang, para penjual jamu bisa memajang jamu Sido Muncul dan memasang layar Sido Muncul di warung-warung dan benar-benar diterima oleh masyarakat.

“Berkat kerja keras dan niat baik, akhirnya Sido Muncul bisa diterima oleh masyarakat dan semakin berkembang penjualannya, dan secara bertahap kita bisa menguasai pasar dengan baik,” tambahnya.

Akhirnya, setiap tahun jumlah armada untuk mudik gratis bagi yang terlibat dalam penjualan jamu terus meningkat. Dan mudik gratis Sido Muncul menjadi pionir dan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain.

“Akhirnya mudik gratis kita menjadi pionir dan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain hingga sekarang,” ujarnya.

Pada lebaran 1437 H tahun 2016, pihaknya menyediakan 350 bus untuk mudik gratis bgai penjual jamu gendong, pengasong, pedagang, pekerja dan buruh. Penyediaan armada bus mudik itu dilakukan sebagai tradisi perusahaah jamu tradisional, untuk membantu pemudik setiap menjelang Lebaran tiba, dari sebelumnya hanya bagi pedagang jamu gendong. Namun, kini diperluas dengan pedagang asongan, pekerja agen jamu, pekerja urban, buruh dan keluarganya.

“Selain itu, bantuan armada bus dari Sido Muncul ini juga sebagai partisipasi untuk membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan angkutan Lebaran dari Jakarta dan sekitarnya menuju berbagai daerah di Jawa Tengah,” ujar Sofyan Hidayat.

Sebanyak 350 unit disiapkan untuk membawa penumpang dari Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang dan sekitarnya menuju Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo, Boyolali, Wonogiri, Banyumas, Purwokerto, Purworejo dan Salatiga.

“Semua penumpang tersebut tidak dikenakan biaya alias gratis dan pemberangkatan akan dilaksanakan pada 1 Juli 2016 yang dipusatkan di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),” ujarnya lagi.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, kegiatan yang dilakukan rutin setiap tahun sekali menjelang Lebaran dan mudik secara gratis ini, bukan semata-mata membantu keuangan para penjual jamu, karena mereka masih memiliki kemampuan mudik dengan biaya sendiri.

“Kegiatan ini sebagai partisipasi Sido Muncul untuk ikut membantu pemerintah dalam mengatasi problem transportasi mudik yang waktunya singkat dan bersamaan sulit memperoleh angkutan saat menjelang Lebaran,” ujarnya lagi.

Mudik tahun 2016 ini lanjut Sofyan merupakan mudik gratis ke-27 dari pertama dilakukan pada 1991. Total biaya yang dikeluarkan untuk keperluan tersebut setiap tahun mencapai sebesar Rp 2 miliar lebih. (BJ)