Home DPRD Kota Semarang Monopoli Usaha Pelindo III Bikin Banyak Perusahan Gulung Tikar

Monopoli Usaha Pelindo III Bikin Banyak Perusahan Gulung Tikar

Audiensi yang dilakukan APBMI dengan pimpinan dewan.

Semarang, 10/6 (BeritaJateng.net) – Para pengusaha bongkar muat dan jasa kepelabuhanan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mengeluhkan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III yang menjadi pesaing besarnya.

“Semula, ada 26 perusahaan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, kini tinggal 15 yang bertahan. Itu semua gara-gara monopoli yang dilakukan Pelindo III,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jawa Tengah Romulo Simangunsong di Semarang, Kamis (9/6).

Hal tersebut diungkapkannya saat beraudiensi dengan jajaran pimpinan DPRD Kota Semarang mengenai keberadaan Pelindo yang mengancam kelangsungan usaha jasa kepelabuhanan di Pelabuhan Tanjung Emas.

Selain APBMI, hadir pula pengurus Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Organisasi Angkutan Darat (Organda) khusus pelabuhan, dan ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia). Kemudian, Pelayaran Rakyat (Pelra), Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki), ditemui langsung empat pimpinan dewan, yakni Supriyadi (ketua), Joko Santoso, Wiwin Subiyono, Agung BM (wakil).

Romulo mengatakan saat ini hanya tersisa 15 perusahaan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang karena “gulung tikar” seiring dengan cakupan usaha mereka yang “diambil” oleh Pelindo.

“Ini bermula sejak adanya UU Nomor 17/2008 tentang Pelayaran. Pelindo mulai masuk ke usaha bongkar muat sehingga kawan-kawan asosiasi tidak kuat. Semestinya, Pelindo melindungi pengusaha kecil,” katanya.

Menurut dia, banyak di antara pengusaha yang terpaksa menjual asetnya, seperti “crane”, “forklift”, hingga ekskavator karena tidak lagi bisa dioptimalkan seiring dengan masuknya anak perusahaan Pelindo.

“Sebenarnya, Pelindo tidak boleh ikut melakukan bongkar muat karena hanya sebagai penyedia fasilitas dermaga pelabuhan, termasuk peralatan. Dari mana kami menggaji karyawan, mengangsur bunga bank?,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua ALFI Jateng Ari Wibowo meminta Pelindo untuk berkonsentrasi mengurusi pekerjaan yang besar-besar, sementara yang kecil-kecil biar dikelola asosiasi yang sudah ada.

“Pelindo harusnya konsentrasi infrastruktur yang besar-besar saja, tetapi malah ‘nitili’ yang kecil-kecil. Anggota kami ada 350 perusahaan. Tidak perlulah bersaing dengan bangsa sendiri,” katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi akan menindak lanjutinya secara bertahap, diawali dengan tinjauan lapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya terjadi di Pelabuhan Tanjung Emas.

“Empat pimpinan dewan bersama komisi terkait akan segera meninjau lapangan. Apakah kegiatan yang dilakukan Pelindo di pelabuhan legal, dan sebagainya? Selanjutnya, kami akan undang Pelindo,” katanya.(bj)