Home Lintas Jateng Meski Harga Sembako Tinggi, Disperindag Belum Tentukan Pelaksanaan OP

Meski Harga Sembako Tinggi, Disperindag Belum Tentukan Pelaksanaan OP

541
SEMARANG, 6/6 (BeritaJateng.net) –Memasuki bulan puasa Ramadhan 2016 dan mendekati lebaran harga harga kebutuhan pokok sudah merambat naik bahkan beberapa komoditas sudah mengalami kenaikan sangat tinggi, namun Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah belum merencanakan pelaksaan Operasi Pasa (OP) untuk menstabilkan harga.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah, Priyo Anggoro Sabar Risan, mengungkapkan, pihaknya belum berencana menggelar operasi pasar dalam waktu dekat. Dia menekankan operasi pasar bukan menjadi satu-satunya cara yang dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok yang terjadi setiap menjelang Ramadan hingga Lebaran.

“Justru kami mengecek (distribusi berbagai kebutuhan pokok masyarakat) dari hulu ke hilir dengan mendatangi langsung,” ungkapnya, Senin (6/6).

Priyo mengutarakan, ketika memasuki Ramadan ada tren di  tengah masyarakat yang menjadi penyebab harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan, padahal stoknya mencukupi hingga beberapa bulan ke depan.
“Harga naik kalau mau Ramadan, setelah itu turun, kemudian mendekati Lebaran naik lagi karena kebutuhan publik,” katanya.
Saat ini, lanjutnya, bahwa stok sejumlah kebutuhan pokok seperti daging sapi, daging ayam ras, telur, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, dan cabai mencukupi, bahkan beberapa di antaranya mengalami surplus.
Kebutuhan daging sapi pada Ramadan di Jateng sebesar 39.932 ton, sedangkan stoknya mencapai 48.519 ton sehingga surplus 8.587 ton daging sapi dan kebutuhan telur 36.950 ton tapi stoknya mencapai 80.000 ton.
“Kita juga akan ada pasar murah di sejumlah titik. Harapannya harga bisa stabil, kebutuhan masyarakat terpenuhi, masyarakat tidak panik, dan tidak ada penimbunan,” katanya.
Sebelumnya, Anggota Komisi B DPRD Jateng Ferry Firmawan, meminta agar Pemprov mengadakan Operasi Pasar (OP) khusus daging sapi. OP ini tindaklanjut permintaan Presiden Joko Widodo agar harga daging sapi bisa di bawah Rp 80.000 perkilogram.
“Kalau Presiden sempat meminta harga daging sapi di Jateng di bawah Rp 80.000, maka harus ada operasi pasar besar-besaran di kota-kota penentu inflasi seperti Semarang, Tegal, Purwokerto, dan Solo dengan harga Rp 70.000 per kilogram,” katanya.
Ia mengatakan, dalam penentuan harga daging sapi di Indonesia tidak selalu mengikuti hukum keseimbangan, yakni ketika barang tidak tersedia dan konsumsi tinggi maka harga juga naik.
“Ada yang disebut dalam transaksi jual beli adalah hukum kesempatan. Harga akan tetap naik meskipun penawaran daging sapi cukup tersedia,” katanya.
Pemprov juga diminta memperhatikan kesiapan menghadapi pola konsumsi masyarakat saat Ramadan dan Lebaran. Langkah antisipasi diperlukan guna menekan inflasi, terutama di kota-kota penentu inflasi. (BJ13)
Advertisements