Home Nasional Menunggu Haji Terlalu Lama, Umroh Jadi Pelampiasan

Menunggu Haji Terlalu Lama, Umroh Jadi Pelampiasan

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

LIPUTAN KHUSUS

Pergi ke Tanah Suci untuk beribadah haji merupakan dambaan setiap umat Muslim di dunia, tidak kecuali Muslim Indonesia, sehingga berbagai upaya dilakukan, dalam hal pembiayaan.

Bekerja keras dan menabung bertahun-tahun rela dilakukan sebagian umat Muslim di Tanah Air, dengan hanya satu tujuan,”menyambangi” Tanah Suci.

Tapi, walau secara fisik dan nonfisik hingga materi siap, Muslim di Tanah Air harus bersabar menunggu pangilan Ilahi, bersujud di depan Kabah. Pasalnya memerlukan waktu tunggu sangat lama untuk merealisasikan ibadah haji.

Muslim Indonesia harus menunggu belasan bahkan hingga 20 tahun lebih untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Waktu tunggu yang sangat lam itu terkait dengan kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi. Hal lain yaitu pembenahan yang dilakukan sekitar kawasan Kabah.

Akibatnya, Muslim di Tanah Air yang sudah “ngebet” ke Tanah Suci “melampiaskan” waktu tunggu yang lama itu dengan ibadah Umrah. “Ketimbang lama untuk jadi haji, ya haji kecil dulu lah, umrah sekalian wisata ke beberapa negara di Timur Tengah,” celetuk Mahadi, warga Wage, Sidoarjo.

Ia bersama istrinya berangkat umrah melalui paket yang banyak ditawarkan oleh biro perjalanan wisata (BPW) yang melayani umrah sekaligus wisata selama sembilan hari. Umumnya BPW melayani paket umrah dilajutkan wisata ke negara-negara di Timur Tengah atau Asia Timur.

“Saya pilih paket sembilan hari yang setelah di Tanah Suci melanjutkan wisata ke negara-negara yang juga memiliki peninggalan sejarah Islam, yaitu Turki dan mesir,” ujarnya.

Besarnya animo masyarakat Muslim ini dimanfaatkan oleh maskapai penerbangan dalam dan luar negeri dengan mengandeng BPW menyediakan layanan umrah, dengan tarif bervariasai –tergantung layanan dan negara tujuan wisata lainnya setelah ke Tanah Suci–, mulai 1.000 hingga 1.800 dolar AS per orang.

Pada umumnya, maskapai yang melayani paket umrah ini ialah maskapai medium atau premium yang memiliki armada pesawat berbadan lebar –besar–. Pasalnya, jarak yang ditempuh dari Tanah Air ke Tanah Suci cukup jauh 7 hingga 9 jam (langsung).

Namun, maskapai penerbangan berbiaya murah Citilink mulai 8 Maret 2015 melayani jalur penerbangan umrah Surabaya (Indonesia)-Jeddah (Arab Saudi) dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam sepekan dengan transit di Bandara Kualanamu, Medan dan Mumbay, India.

“Sebelumnya Citilink meresmikan penerbangan umrah dari Jakarta-Jeddah juga tiga kali dalam sepekan. Kini Citilink melengkapi bisnisnya dengan melayani penerbangan Surabaya-Jenddah,” ujar VP Corporate Communications Citilink Indonesia, Benny Butarbutar kepada pers di Surabaya.

Penerbangan internasional anak perusahaan Garuda Indonesia ini dilakukan setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu dengan waktu keberangkatan pukul 21.00 WIB menggunakan armada pesawat Airbus A-320 berkapasitas 180 penumpang.

Benny menjelaskan, waktu tempuh Surabaya-Jeddah sekitar 12 jam penerbangan sehingga pihaknya harus melakukan transit yaitu di Medan dan Mumbay karena pesawat A-320 hanya mempunyai waktu tempuh terbang lima sampai enam jam.

“Kami targetkan dalam semester pertama mampu menerbangkan sedikitnya 26.250 penumpang dari Surabaya untuk melakukan umrah di Tanah Suci. Kami yakin dapat tercapai karena tingkat pertumbuhan ekonomi Jatim di atas rata-rata nasional, yaitu 5,86 persen, dan minat warganya melakukan umrah sangat tinggi,” ucapnya mantan jurnalis nasional ini.

Untuk tarif Surabaya-Jeddah ini, Citilink mematok harga 1.000 dolar AS untuk pergi pulang (PP) merupakan tarif kompetitif di mana layanan diberikan “full service”.

Karena pesawatnya kecil, Citilink harus “rela” transit hingga dua kali –tidak bisa langsung–, yaitu di Bandara Kualanamu-Medan dan Mumbay-India.

“Kalau prospeknya ternyata bagus, di mana peminat umrah makin tinggi dan menuntut layanan lebih baik dan cepat, tidak menutup kemungkinan kita pinjam pesawat berbadan lebar dari induk usaha (Garuda Indonesia),” ucap President & CEO Citilink Indonesia Albert Burhan, ketika peresmian penerbangan umrah Surabaya-Jeddah yang diselenggarakan Citilink di salah satu hotel berbintang di Surabaya, Jatim.

Agen Resmi Namun, diperlukan kejelian dan kehati-hatian masyarakat, pasalnya banyak BPW penyedia layanan umrah “abal-abal” memanfaatkan antusias masyarakat untuk umrah. Buntutnya menelantarkan atau hingga membawa kabur dana umat.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan masyarakat untuk memastikan biro perjalanan umrahnya merupakan agen resmi yang terdaftar di Kementerian Agama.

“Kami berharap masyarakat tidak berhubungan dengan travel yang tidak masuk dalam daftar tersebut, untuk mengantisipasi beberapa hal yang tidak kita inginkan,” kata Lukman, lewat keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (6/3).

Kementerian Agama sendiri telah mencantumkan daftar agen travel atau BPW umroh resmi lewat laman resmi haji.kemenag.go.id/v2/basisdata/daftar-ppiu yang bisa diakses oleh umum.

Sebelumnya, Kemenag mengupayakan pengembalian reputasi ibadah umroh lantaran sempat tercoreng oleh sejumlah agen travel nakal dan ilegal.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Abdul Djamil mengatakan pengembalian reputasi itu dilaksanakan seiring tingginya peminat ibadah umroh.

“Ini perlu dilakukan untuk peningkatan kualitas pelaksanaan umroh. Terlebih ibadah ini menjadi semakin diminati seiring semakin banyaknya antrean jamaah haji,” tutur Abdul.

Menurut dia, upaya itu dilakukan untuk mencegah terjadinya berbagai permasalahan seperti insiden jamaah umrah yang tertahan atau terlantar di suatu tempat.

Pada akhir 2014, sebanyak 240 jamaah umrah asal Indonesia terlantar di Bangkok, Thailand. Mereka terlantar di negara tersebut, karena belakangan diketahui pesawat yang dipakai tidak memiliki izin mendarat d Jeddah, Arab Saudi.

Sekitar medio Januari 2015 juga terjadi penelantaran 659 jamaah umroh oleh agen nakal. Terdapat juga kasus lain ketika jamaah umrah bisa melakukan ibadahnya, tetapi mereka tidak dapat pulang karena diduga ada kesalahan teknis dari agen perjalanan dalam pengurusan visa jamaah.

Visa jadi Ganjalan Seorang pengelola biro perjalanan wisata (BPW) di Tanah Air mengakui bahwa pengurusan visa menjadi ganjalan lancar tidaknya penyelenggaraan ibadah umrah ke Tanah Suci, Arab Saudi.

M Burhan dari BPW Burza Surabaya mengemukakan, Kedubes Arab Saudi di Jakarta hanya melayani pemberian visa bagi jamaah umrah sehari menjelang keberangkatan, sehingga ini membuat repot para pengelola BPW umrah.

Ia mengemukakan persoalan itu saat bersama 120-an BPW dari berbagai kota di Indonesia menghadiri peresmian penerbangan umrah Surabaya-Jeddah yang diselenggarakan Citilink.

Padahal, idealnya empat sampai lima hari menjelang keberangkatan pengurusan visa bisa dilayani, ujarnya.

“Lha ini harus sehari menjelang keberangkatan, membuat kita (BPW) maupun calon jamaah umrah was-was, apa bisa jadi visanya atau tidak. Ini yang belum ada jaminan,” ucapnya.

Ia menuturkan bahwa masalah penerbangan dan layanan lainnya seperti akomodasi kini sudah cukup terjamin, memiliki kepastian keberangkatan dan penginapan. Namun, visa menjadi faktor yang mencemaskan, belum ada jaminan bahwa dalam sehari pasti selesai.

President & CEO Citilink Indonesia, Albert Burhan mengakui bahwa masalah visa merupakan faktor eksternal yang pihaknya tidak bisa memberi jaminan. Karena itu merupakan urusan pemerintah dalam hal ini Kedubes Arab Saudi untuk Indonesia yang menentukan dan membuat aturannya.

Selain visa, BPW penyelenggara umrah juga mengharapkan agar Citilink bisa memangkas waktu “transit” di Bandara Mumbay, India yang dirasakan cukup lama, sekitar 1,5 jam, sehingga mengakibatkan penerbangan Surabaya-Jeddah yang dipatok 12 jam, menjadi molor hingga 13 jam.

“Kami mengerti ini penerbangan jarak jauh, kalau transit di Medan nggak masalah karena bisa cepat kurang dari satu jam. Namun, tatkala transit di Mumbay membutuhkan waktu 1,5 jam. Ini membuat lama waktu tempuh,” ungkap salah seorang pengelola BPW umrah dari Bandung, Fauzan Djamil.

Menurut Albert Burhan, bandara di Mumbay merupakan bandara internasional yang sangat sibuk dan padat, sehingga giliran untuk isi BBM maupun urusan penerbangan menjadi lebih lama. Karena itu, Citilink berencana mengalihkan transit di Indianya di Bandara Ahmedabad di Gujarat.

“Bandara di Mumbay sangat padat, dan masyarakat khususnya pengelola bandara setempat kurang ramah. Karena itu kita berencana bandara transitnya dialihkan ke Ahmedabad yang masih kurang padat melayanani penerbangan, sehingga urusan isi BBM dan ‘landing’ cepat tertanggani yang membuat waktu tempuh Surabaya-Jeddah bisa benar-benar 12 jam,” tuturnya.

Mengenai visa, Alrbert mengakui bahwa pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu ranahnya pemerintah Arad Saudi.”Paling kita berharap pemerintah Indonesia mendesak pemerintah Arab Saudi tentang visa ini. Itu ‘G to G’,” ujarnya. (ant/Bj)