Home News Update Menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri dengan Hidroponik di Lingkungan Perkotaan

Menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri dengan Hidroponik di Lingkungan Perkotaan

Menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri dengan Hidroponik di Lingkungan Perkotaan
         Demak, 27/2 (BeritaJateng.net) – Paradigma pertanian terdahulu adalah bahwa kegiatan budidaya tanaman hanya dilakukan di atas lahan yang secara khusus digunakan untuk budidaya. Namun, seiring berkembangnya teknologi di bidang biologi terapan, khususnya pertanian, maka di era pertanian modern, kegiatan budidaya tidak hanya terpusat di lahan pertanian.
         Seperti kita ketahui, lingkungan perkotaan identik dengan minimnya lahan budidaya tanaman, karena lahan difungsikan sebagai bangunan pabrik, kantor maupun perumahan. Hal tersebut menjadikan kegiatan budidaya tanaman secara konvensional sulit dilakukan. Namun seiring berkembangnya teknologi budidaya tanaman tanpa tanah (soiless culture), maka kegiatan budidaya tanaman mulai ramai dilakukan di pusat perkotaan, termasuk di lingkungan pendidikan, yaitu kampus maupun sekolah. Kegiatan budidaya tanaman yang dilakukan di kawasan perkotaan disebut dengan istilah Urban Farming.
         Tim pengabdian kepada masyarakat Prodi Pendidikan Biologi UPGRIS yang terdiri dari Ibu Rivanna Citraning Rachmawati, M.Pd, Atip Nur Wahyunani, M.Pd, Rosyida, M.Sc dibantu oleh Mahasiswa KKN UPGRIS melakukan workshop mengenai Hidroponik kepada kurang lebih 17 Sekolah SD, MI, SMP, MTS, SMA dan MA se Kabupaten Demak yang bertempat di SMAN 2 Mranggen Demak.
         Sebanyak 17 sekolah tersebut merupakan sekolah binaan SMA 2 Mranggen untuk menuju Visi Sekolah Adiwiyata. Sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang seluruh elemennya memiliki sikap memperhatikan aspek keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.
         Dalam kegiatan pengabdian oleh tim Pendidikan Biologi UPGRIS disampaikan sekaligus praktik beberapa topik mengenai hidroponik, antara lain mengenai (1) Prinsip dasar budiddaya tanpa tanah, media tanam dan pengelolaan nutrisi, (2) Beberapa model hidroponik bersirkulasi dan non sirkulasi, (3) Penendalian organisme penganggu tanaman, serta (4) Panen, Pasca Panen dan Marketing.
         Pada kegiatan workshop tersebut, masing masing sekolah mencoba mempraktikan budidaya berbagai tanaman hortikultura dengan sistem hidroponik sumbu. Tanaman yang diujicobakan adalah, aneka jenis selada, antara lain: salanova, lollo rossa red, lollo rossa green dan butterhead  serta beberapa jenis sayuran lain, antara lain: bayam bicolor dan sawi pagoda. Dalam perakitan instalasi hidroponik sumbu, peserta memanfaatkan barang barang bekas yang tidak terpakai antara lain, baki, gelas air mineral, kain kaos bekas dan styrofoam.
         Tujuan menggunakan barang bekas adalah agar kelimpahan limbah rumah tangga dapat lebih ditekan dengan memanfaatkannya dalam instalasi hidroponik.
Kegiatan pengabdian tidak berhenti pada tataran workshop, namun akan terus dilakukan pembinaan sehingga masing masing sekolah dapat mengelola kegiatan budidaya tanaman dengan sistem hidroponik secara mandiri. (El)