Home Nasional Menteri PUPR Resmikan Rumah Apung Tambak Lorok Semarang

Menteri PUPR Resmikan Rumah Apung Tambak Lorok Semarang

Menteri PUPR Resmikan Rumah Apung Tambak Lorok Semarang

Semarang, 25/11 (BeritaJateng.net) – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meresmikan bangunan berteknologi apung pertama di Indonesia yang dibangun di kawasan perumahan nelayan Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/11).

Bangunan apung yang difungsikan sebagai perpustakaan dan balai pertemuan warga Tambaklorok, Semarang, itu merupakan hasil riset Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR.

Teknologi apung yang dikembangkan Balitbang Kementerian PUPR itu dinamai sistem modular wahana apung (Simowa) yang proses pembangunan konstruksinya memerlukan waktu kurang dari satu tahun.

“(Bangunan apung Tambaklorok, red.) Sudah jadi dan resmi dioperasikan. Ini juga (teknologi, red.) baru untuk Kementerian PUPR, dan mungkin untuk Indonesia juga baru,” kata Basuki.

Menteri PUPR meninjau rumah apung Tambaklorok
Menteri PUPR meninjau rumah apung Tambaklorok

Ia menjelaskan teknologi apung sebetulnya sudah banyak digunakan sejak lama untuk pembangunan dermaga-dermaga di Kalimantan, tetapi belum terpikirkan menerapkannya untuk tempat hunian.

“Karena rumah bebannya berat, tetapi ternyata tadi (kekuatan bangunan apung, red.) 1 meter persegi bisa menahan beban sampai 800 kilogram. Jadi, dengan teknologi ini bisa dibuat dua lantai,” katanya.

Dibangunnya perpustakaan dan balai pertemuan warga dengan sistem apung di kawasan Tambaklorok, lanjut dia, merupakan langkah awal untuk mewujudkan kampung bahari di pesisir utara Semarang itu.

Basuki mengatakan pembangunan perpustakaan dan balai warga apung itu merupakan langkah tepat untuk meningkatkan inovasi di bidang infrastruktur dengan berbagai keunggulan yang dimiliki.

Rumah Apung Tambak Lorok Semarang
Rumah Apung Tambak Lorok Semarang

Apalagi, kata dia, bangunan apung itu memiliki konsep ramah lingkungan, mandiri dalam kebutuhan energi, dan tidak mencemari lingkungan, seperti pemanfaatan tenaga surya untuk energi listrik.

“Ini kan pakai tenaga surya yang bisa sampai 1.000 watt. Jadi, sudah tidak bergantung listrik dari PLN lagi. Untuk sanitasinya juga pakai biofil yang dikembangkan Balitbang Kementerian PUPR,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balitbang Kementerian PUPR Danis H. Sumadilaga menyebutkan bangunan apung di Tambaklorok itu menjadi bangunan apung di Indonesia yang akan dijadikan percontohan.

Dari segi fungsi, lantai satu seluas 128 meter persegi digunakan untuk balai warga, kamar mandi seluas 6 meter persegi, sementara lantai dua seluas 72 meter persegi untuk perpustakaan.

Teknologi bangunan apung itu, kata dia, merupakan solusi untuk mengatasi penurunan muka tanah, banjir, dan rob yang sering terjadi di kawasan Tambaklorok yang dikenal sebagai kampung nelayan itu.

Selain di Tambaklorok, Balitbang Kementerian PUPR juga menerapkan teknologi Simowa untuk pemecah gelombang di Candidasa, Bali dan jembatan apung di Cilacap yang akan diresmikan dalam waktu dekat. (Bj)