Home Hiburan Menikmati Indahnya Gunung Dieng Wonosobo

Menikmati Indahnya Gunung Dieng Wonosobo

image
Ilustrasi

Pemandangan yang cukup unik terlihat di pinggir kawah Sikidang yang mengeluarkan kepulan asap belerang di kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, akhir Desember 2014.

Di antara kepulan asap berwarna putih itu, beberapa pria bertopi, berkaos lengan panjang dan mengenakan masker, sedang memegang tongkat pancing (joran) dari bambu sepanjang tiga meter.

Gumpalan belerang pada kawah dengan diameter sekitar sepuluh meter tersebut tampak meloncat-loncat ke udara seperti kijang. Nama kawah Sikidang menurut sejarah memang berasal dari kata kijang.

Sebagian joran tersebut sengaja dibiarkan di bibir kawah yang sedang menggelegak, layaknya orang sedang menunggu pancingnya disambar ikan di pinggir kolam.

Setelah didekati, ternyata benda yang berada di ujung tongkat pancing adalah bungkusan plastik berisi telur ayam dan burung puyuh yang sengaja direbus dengan cara dicelupkan ke dalam kawah belerang tersebut.

Pria tersebut adalah warga lokal yang memang berjualan telur ayam dan burung puyuh yang sengaja direbus di kawah belerang yang menggelegak dengan suhu sekitar 80 derjad Celsius.

Pengunjung yang ingin mencicipi sensasi telur ayam rebus, itik atau puyuh, tinggal memesan dengan jumlah sesuai keinginan dan dalam waktu lima sampai tujuh menit, telur rebus “ala Kawah Sikidang” pun siap dinikmati.

Sebutir telur itik rebus dihargai Rp5.000, telur ayam kampung Rp4.000, sementara satu kantong telur puyuh isi empat butir dijual seharga Rp3.000.

“Menurut warga setempat, telur rebus dari Kawah Sikidang akan memberikan khasiat awet muda dan keperkasaan, terutama bagi kaum laki-laki,” kata Sabaruddin, seorang pemandu wisata lokal.

Sensasi rasa telur rebus kawah Sikidang hanyalah salah satu dari beberapa atraksi yang bisa dinikmati di Dieng, kawasan yang dikenal dengan julukan Negeri Diatas Awan itu.

Penggemar wisata kuliner juga bisa menikmati hidangan khas mie ongklok. Disebut mie ongklok karena cara memasaknya “diongklok-ongklok” atau dicelupkan berkali kali-kali ke dalam air mendidih.

Sebenarnya makanan tersebut tidak terlalu berbeda dengan jenis olahan mie lainnnya karena sama-sama menggunakan bahan utama mie kuning dan sayuran. Kalau mie lain menggunakan sayur sawi, maka ongklok mencampurkan kubis dan kucai mentah yang dicelupkan ke air mendidih dengan menggunakan saringan bambu.

Perbedaan lainnya adalah kuah, yaitu kuah kental berwarna coklat yang terbuat dari campuran saripati singkong, gula merah, ebi. Mie disiram dengan kuah bumbu kacang, sehingga rasanya agak manis dan gurih.

Mie ongklok akan terasa lebih nikmat bila disantap bersama makanan pendamping, yaitu sate sapi atau cireng (kanji) yang digoreng.

Hal yang khas lainnya dari Dieng adalah pepaya gunung yang oleh warga setempat disebut carica, jenis buah-buahan yang cocok tumbuh di ketinggian antara 1.500m sampai 3.000m. Tumbuhan ini berasal dari dataran tinggi Andes, Amerika Selatan.

Pepaya gunung berbentuk bulat telur dengan panjang 6-10 cm mempunyai daging yang keras, berwarna kuning dan rasanya asam, tetapi harum.

Kaya akan kalsium, gula, vitamin A dan C, buah ini kebanyakan dijadikan sirup, jus, manisan dan selai, sehingga cocok sebagai oleh-oleh bagi wisatawan.

Tidah Hanya Matahari Terbit Kawasan Dataran Tinggi Dieng yang terletak di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, selama ini memang lebih identik dengan wisata alam, terutama mereka yang gemar dengan keindahan matahari terbit dari balik gunung.

Hampir semua pesona alam, tersedia di desa tertinggi di Pulau Jawa itu, mulai dari menyaksikan matahari terbit dari Gunung Sikunir (2.350m diatas permukaan laut), Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Telaga Cebong, Kawah Sikidang, Bukit Ratapan, sampai peninggalan sejarah Hindu di komplek Candi Arjuna.

Namun segala keindahan alam tersebut akan terasa belum lengkap jika tidak dipadukan dngan kekayaan budaya masyarakat setempat.

Di antara atraksi budaya yang sampai saat ini menjadi ikon wisata Dieng adalah upacara cukur anak berambut gimbal. Acara tahunan tersebut sekarang dikemas dalam Festival Budaya Dieng (Dieng Cultural Festival) yang biasanya digelar setiap Juni.

Santoso, warga setempat mengakui bahwa tidak ada yang mengetahui secara persis dan banyak cerita yang beredar tentang asal muasal anak berambut gimbal yang hanya ada di Dataran Tinggi Dieng.

Satu versi mengatakan bahwa anak berambut gimbal adalah keturunan dari nenek moyang yang menemukan daerah Dieng, yaitu Kyai Kolodete yang bersumpah tidak akan mandi dan mencuci rambut sebelum daerahnya makmmur. Masyarakat pun percaya bahwa keturunan berambut gimbal akan hidup makmur.

Sementara versi yang lain menyatakan, anak-anak berambut gimbal akibat ibu mereka terlalu banyak menghirup gas belerang saat hamil.

Apapun versi yang beredar, yang pasti anak gimbal di Dieng dianggap sebagai anak yang suci, sehingga semua permintaan mereka harus diikuti sebelum anak tersebut meminta rambutnya dipotong.

Ritual pemotongan rambut gimbal itulah yang menjadi andalan atraksi wisata budaya dalam Dieng Cultural Festival dan prosesi acara digelar di pelataran komplek Candi Arjuna Pada prosesi tersebut, anak gimbal akan dimandikan dengan air dari tujuh sumber, kemudian diarak, dan dilempari beras kuning dan uang koin, baru dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat sebelum dibuang ke Telaga Warna.

Alief Rahman, pimpinan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa mengakui bahwa ritual pemotongan rambut gimbal sampai sekarang masih menjadi andalan wisata Dieng, selain keindahan matahari terbit dari puncak Gunung Sikunir.

Tapi seiring perjalanan waktu, acara yang sudah diselenggarakan sejak puluhan tahun lalu itu tersebut kemudian dikemas sedemikian rupa dalam Dieng Cultural Festival (DCF) yang sudah diselenggarakan lima kali secara beruntun sejak 2009.

Bahkan sejak dua tahun terakhir, panitia sudah menampilkan sejumlah agenda baru, dan salah satunya pergelaran Jazz Atas Awan.

“Tahun lalu, sebanyak 14 grup dari berbagai kota mengikuti Jazz Atas Awan. Kami berharap acara tersebut akan semakin diikuti banyak peserta, termasuk dari luar negeri,” kata Alief.

Terkait penyelenggaraan Dieng Cultural Festival, Alief mengakui bahwa jumlah penginapan (homestay) yang terbatas masih menjadi kendala untuk menampung ribuan pengunjung.

“Yang perlu dibenahi adalah ketersediaan homestay untuk menampung lonjakan pengunjung, sementara homestay yang ada di Dieng dan sekitarnya hanya berjumlah 62 buah. Akhirnya banyak pengunjung yang terpaksa menginap di rumah penduduk,” katanya. (Ant/BJ)