Home News Update Mengintip Perayaan Imlek Masyarakat Tionghoa di Pulau

Mengintip Perayaan Imlek Masyarakat Tionghoa di Pulau

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Tidak semewah perayaan Imlek di kota besar, pergantian tahun Tiongkok dirayakan dengan sederhana namun tetap meriah dan sarat makna.

Di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga Kepulauan Riau, Imlek hari pertama tidak terlalu ramai. Warga keturunan Tionghoa masih berada di kota perantauan masing-masing, merayakan pergantian tahun dengan keluarga yang lebih kecil.

“Nanti, baru Imlek hari raya ke tiga atau ke empat, kampung ramai,”kata keturunan Tionghoa Dabo Lingga yang menetap di Kota Batam, Asmin Patros.

Pada hari itu, seluruh keluarga yang mencari nafkah di daerah lain pulang dan berkumpul di Lingga, pulau yang terkenal karena banyak harta karun yang tertimbun di pantai-pantainya.

Penganut Budha kemudian bersembahyang di vihara, sementara umat agama lain tetap berkumpul di rumah, menunggu kerabat selesai bersembahyang.

Selesai menghadap Tuhan, kemudian acara yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Pelelangan barang yang diadakan pegurus klenteng.

“Semua barang kebutuhan sembahyang dilelang. Ada kue, pajangan, semua yang ada kaitan dengan kepercayaan, termasuk lampion,” kata Asmin.

Saat lelang itu, pengurus klenteng akan menawarkan setiap barang. Kemudian warga mulai memberikan angka yang berani mereka bayarkan. Dan pemberi harga tertinggi akan mendapatkan kebutuhan sembahyang itu.

Hasil dari lelang itu kemudian akan disumbangkan seluruhnya kepada pengurus klenteng untuk digunakan seluruhnya demi pemeliharaan operasional klenteng dan kegiatan sosial lainnya.

Asmin, yang juga anggota DPRD Provinsi Kepri itu selalu menawar barang yang sama setiap tahun, yaitu patung Budha Maitreya, Budha gendut yang selalu tertawa.

Sudah sekitar 20 sampai 30 keping patung Budha Maitreya ia dapatkan dari lelang Imlek di Pulau Dabo.

“Biasanya saya paling favorit sama Budha ketawa, maitreya. Saya memang koleksi,” katanya.

Masyarakat percaya, membeli barang-barang hasil lelang di Vihara akan membawa berkat tersendiri. Tidak heran, acara tahunan itu akan dipadati ratusan warga Tionghoa seluruh penjuru negeri. Mereka memberikan harga terbaik untuk setiap barang yang dilelang.

Lelang berlangsung hingga dini hari, karena banyaknya barang yang dilelang dan banyaknya peminat barang-barang yang dijual.

“Dalam setahun, dua kali kampung kami ramai didatangi saudara dari penjuru negeri, yaitu saat Imlek dan sembahyang kubur, cheng beng. Saat itu terjadi keramaian,” katanya.

Pulau Galang Di Pulau Galang, yang berjarak sekitar 440 km dari Kota Batam Kepulauan Riau, lampion merah mewarnai beberapa rumah keluarga keturunan Tionghoa.

Aksesoris Imlek yang dipasang tidak berbeda dengan yang di pasang di kota. Ada lampion, pohon sakura, petasan menggantung yang semuanya berwarna serba merah.

Tidak heran jika aksesorisnya sama, karena semuanya dibeli dari Batam. Masyarakat Tionghoa di Pulau Galang sudah lama tidak membuat sendiri aksesoris Imlek dan memilih untuk membeli ke Batam atau Singapura.

Sebenarnya, tidak terlalu banyak warga Tionghoa yang menetap di pulau sarat sejarah itu. Hanya sekitar lima rumah warga Tionghoa di sana. Namun, saat perayaan Imlek, rumah-rumah itu ramai didatangi kerabat dari Batam, Pekanbaru, hingga dari Singapura.

“Inilah saat kami semua berkumpul, setahun sekali, keluarga dari mana-mana banyak yang datang,” kata keluarga keturunan Tionghoa, Ardiwinata.

Ardiwinata sebenarnya berdarah Melayu, namun ia menikahi gadis Tionghoa, sehingga ikut merayakan pergantian tahun baru Tiongkok setiap tahunnya.

Dan tidak hanya Ardiwinata yang berkulit cokelat di keluarga itu. Banyak saudara Vivi (Istri Ardi) yang menikahi orang di luar suku Tionghoa. Sehingga perayaan Imlek dilakukan dengan cara-cara yang lebih umum.

Ia bercerita, setiap tahun biasanya merayakan malam tahun baru di kediamannya di Kota Batam. Pada malam itu, semua keluarganya berkumpul bersama. Baru kemudian, pada Hari Imlek, semuanya berangkat ke Pulau Galang bersama-sama, mengunjungi sanak-saudara yang masih tinggal di sana.

Di Galang, seluruh keluarga akan makan siang bersama, setelah anggota keluarga penganut Budha selesai bersembahyang di vihara terdekat.

“Makanan favorit kami di sana adalah opor. Hahaa… tidak Lebaran, tidak Imlek, selalu opor,” kata pria yang menjabat Kabag Humas Pemkot Batam itu.

Tuan rumah agaknya memahami betul keragaman anggota keluarganya, sehingga makanan yang disajikan siang itu relatif beragam. Karena banyak anggota keluarga yang menganut Islam, sehingga disediakan pula makanan yang halal.

Selain opor, ada juga olahan mie yang menjadi favorit keluarga bersama. Dan tentu saja primadona, asam pedas dingkis.

Setelah makan bersama, barulah keluarga yang sudah menikah memberikan angpau kepada anak-anak, seperti tradisi Imlek di daerah lain.

“Angpau itu wajib, kami ngasih, anak-anak dikasih ai, akyu, ote, ahya semuanya,” katanya.

Isi angpau tidak ditentukan, tergantung kemampuan pemberi dan kebutuhan anak yang akan diberi. Bila anak lebih kecil, tentu jumlahnya tidak sebanyak yang sudah besar. (amt/BJ)