Home News Update Mengenal Petilasan Jati Ombo Hingga Tugu Sidandang

Mengenal Petilasan Jati Ombo Hingga Tugu Sidandang

3276

Semarang, 21/4 (BeritaJateng.net) – Mungkin tak banyak orang yang mengenal apa itu Jati Ombo. Jati Ombo merupakan kompleks petilasan yang dipercaya merupakan lokasi Sunan Kalijaga menebang pohon untuk soko guru Masjid Agung Demak.

Lokasi ini sangat erat kaitannya dengan alur legenda yang selanjutnya memberikan nama bagi beberapa daerah di kota semarang, antara lain Jatingaleh, Desa Sadeng, Goa Kreo dan daerah Jati Kalangan di sekitar terminal Cangkiran.

Jati Ombo dulunya merupakan salah satu paket objek wisata yang terintegrasi dengan agro Sodong yang populer di tahun 1990-an. Jati Ombo dengan sokongan dana yang ada diproyeksikan menjadi salah satu daya tarik objek wisata berbasis agro, studi bandingnya hingga ke Pinepple City, Australia.

Dulunya agro Sodong memiliki beberapa daya tarik antara lain petilasan Sunan Kalijaga Jati Ombo, Tugu Sidandang dengan teater terbukanya, kebun kelapa hijau, dan kebun tanaman okra.

Kegiatan atraksi budayanyapun cukup bervariatif antara lain ada jaran kepang, karapan kerbau hingga pertunjukan lomba menggiring itik.
Kejayaan agro sodong hanya bersifat prematur, belum genap tiga tahun diresmikan, pada tahun 1998 Indonesia dihantam krisis ekonomi yang dasyat, memaksa pemangkasan anggaran pada berbagai lini sehingga alokasi dana bagi agro sodong dihentikan karena pergantian skala prioritas pemerintahan.

Hal ini menyebabkan kegegapgempitaan wisata agro sodong berkurang drastis.

Saat ini aset peninggalan project agro sodong masih dapat kita jumpai di kelurahan Purwosari. Begitu memprihatinkan dan tidak terawatnya aset bernilai ratusan juta, dibiarkan terlantar karena alasan kurangnya pendanaan dan pengangkatan kembali agro ini sebagai objek wisata.

Sebagian aset agro ini rusak karena termakan usia, sebagian rusak karena ulah vandalisme dan sebagian hilang karena pencurian. Hingga saat ini agro sodong masih tercatat sebagai salah satu Unit Pelayanan Teknis (UPT) di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Pada tahun 2012 pramuka penegak dan pandega se-Kota Semarang melakukan perkemahan wirakarya, yaitu perkemahan yang menitikberatkan kegiatannya pada pengabdian masyarakat dengan tema “nguri-nguri Agro Sodong” yang sangat ikonik dengan Tugu Sidandang dan Jati Ombonya.

Sekitar 520 orang pramuka dari usia 16 s.d. 24 tahun berbaur dan bekerja sama membersihkan aset yang tersisa selama tujuh hari mereka berkegiatan. Memang ketika membersihkan Tugu Sidandang menampakkan hasil namun saat waktu kembali berganti aset ini kembali dibiarkan merana tak terurus.

Hanya sesekali warga RW 1 Dusun Gilisari bekerja bakti membersihkan kompleks Tugu Sidandang ini.

“Dalam Perda Rencana Pengembangan Pariwisata Kota Semarang 2016-2021, agro sodong tidak masuk dalam poin pengembangan, hal ini memiliki implikasi bahwa dinas teknis dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang tidak memiliki kewajiban yang mengikat untuk mengembangkan (kembali) agro sodong. Ironisnya padahal agro sodong merupakan UPT yang ada dibawah dinas ini,” ujar Angga Jati selaku ketua kelompok sadar wisata Dusun Sodong kelurahan Purwosari.

Sedikit berbeda dengan Tugu Sidandang, Petilasan Jati Ombo yang juga merupakan aset peninggalan project agro sodong kondisinya lebih terawat hal ini disebabkan pada Jati Ombo terdapat mata air yang digunakan warga Sodong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta adanya surau kecil yang biasa digunakan untuk beribadah para petani.

Pada tahun 2014, pramuka kota Semarang kembali melakukan kegiatan perkemahan besar yang melibatkan 650 orang yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Nyadran Jati Ombo.

Nyadran Jati Ombo merupakan kegiatan kerja bakti masyarakat Dusun Sodong membersihkan Petilasan yang di dalamnya terdapat kegiatan sedekah bumi serta tradisi memasak gulai kambing untuk menduplikasi sejarah rombongan Sunan Kalijaga yang memasak gulai kambing setelah menebang kayu jati dan digunakan untuk tiang utama Masjid Agung Demak.

“Saat ini masyarakat kelurahan Purwosari, khususnya Dusun Sodong tengah mencanangkan diri sebagai rintisan desa wisata di kota Semarang. Dengan menggunakan nama Kampung Anggrek Semarang, masyarakat Dusun Sodong mencoba mengembalikan pamornya sebagai kawasan wisata,” ungkap Angga.

Dengan mengandalkan tema utama pertanian anggrek, Dusun Sodong sangat ideal menjadi desa wisata karena didukung oleh adanya petilasan Sunan Kalijaga dan pelatihan kesenian karawitan dan tari Jawa milik sanggar Broto Laras dengan arahan Ki Dartono Amijoyo.

“Semoga kegiatan yang beranjak dari keinginan masyarakat sendiri ini mampu berkembang dan didukung oleh Pemerintah,” pungkas Angga Jati. (BJT01)

Advertisements