Home News Update Mengais Rejeki di Tengah Hiruk Pikuknya Monas

Mengais Rejeki di Tengah Hiruk Pikuknya Monas

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

LIPUTAN KHUSUS

Seorang pedagang kopi keliling berjualan dengan sepedanya di Monas, Jakarta Pusat, secara sigap menyajikan kopi siap saji dalam sachet yang diseduh dengan air panas yang disimpan dalam termos.

Pembelinya tidak perlu berlama-lama menunggu minuman siap saji tersebut seperti halnya di warung-warung tradisional.

Merekalah yang mempertemukan berbagai latar orang Jakarta dari tempat ke tempat, baik yang berkemeja perlente, yang berkaos distro, yang menggemari merek maupun harga grosiran, dengan ragam gaya: rapi, modis, atau santai; juga macam aroma: parfum impor, deodoran lokal, hingga peluh belaka. Kopi memang memikat banyak kalangan Pedagang kopi keliling ini menjadi pemandangan khas di antara pedagang kaki lima yang sering ditemukan di Jakarta, dengan jumlahnya yang begitu banyak hampir bisa ditemukan di sudut Ibu Kota.

Ketika salah seorang pedagang kopi keliling ini memarkirkan sepedanya di trotoar jalanan sambil melepas kepenatan yang seharian berkeliling mengayuh sepedanya, salah seorang pembeli mendekati pedagang kopi siap saji tersebut.

“Pak, kopi satu” ujar Aziz (21) kepada pedagang kopi keliling.

Aziz mengatakan, “Saya beruntung dan berterima kasih dengan adanya pedagang kopi keliling saya tidak repot lagi harus nyari warung ke sana-ke sini, lagian dengan adanya pedagang kopi keliling saya bisa menikmati kopi sepanjang jalan walaupun cara minum saya tidak sopan.

“Tetapi maklum lah kita kan harus kerja jadi mesti cepat jadi nggak punya waktu untuk bersantai ria menikmati kopi,” katanya.

Dengan sigapnya, pedagang kopi siap saji tersebut menyeduh kopi yang diminta oleh pelanggannya, kopi siap saji yang dipesan tersebut berharga Rp3.000 dengan menggunakan gelas plastik, kopi siap saji tersebut siap untuk diminum.

“Saya biasanya berjualan keliling sekitar Monas, karena masuk dalam Monas nggak dibolehin sama Ahok (Gubernur DKI Jakarta),” ujar pedagang kopi keliling, Anto (25).

Pedagang kopi keliling ini tidak merugikan masyarakat, malahan sebagian dari pembeli merasa beruntung karena tidak perlu jauh-jauh lagi mencari kopi dan tidak memakan waktu lama juga untuk bisa menikmati seduhan dari kopi tersebut.

“Saya memang jarang membeli kopi keliling boleh dikatakan hampir tidak pernah membeli kopi keliling tersebut. Tapi menurut saya,adanya kehadiran pedagang kopi keliling ini tidak mengganggu ke aktivitas saya, karena mereka berjualan tidak mengganggu lingkungan atau tidak anarkis dan mereka juga tidak ugal-ugalan di jalanan, sehingga tidak menyebabkan kemacetan di mana-mana walaupun keberadaan mereka di Ibu Kota ini sangat banyak malahan ada begitu banyak pedagang kopi keliling yang berjualan di Ibu Kota.” ujar Farrat (24).

Mereka memang memilih wilayah-wilayah ramai di Ibu Kota untuk menjajakan kopi dagangannya. Dengan menggunakan sepeda mereka tiap harinya berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain.

Pedagang kopi keliling yang berasal dari Kota Madura ini memodali usahanya berjualan kopi sebesar Rp500.000, dengan modal tersebut dia dapat membeli berbagai macam jenis kopi.

Selain itu, pedagang kopi keliling ini berjualan mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB, dengan harga kopi dari Rp3.000 sampai dengan Rp5000 pelanggan sudah bisa menikmati seduhan kopi tersebut, dari berjualan kopi seharian Anto mengaku dapat menghabiskan 20-30 gelas dalam sehari dengan penghasilan kira-kira Rp50 ribu sampai Rp100 ribu sehari. Dari penghasilan Anto tersebut, dijadikan modal lagi untuk jualan besok harinya sisanya dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga di rumah.

Sengitnya persaingan dengan puluhan pedagang kopi lainnya tidak menyurutkan hati para pedagang kopi keliling ini untuk berhenti berdagang kopi keliling di Jakarta.

Apabila hujan turun, maka pedagang kopi keliling ini berteduh di halte-halte terdekat karena sepeda yang mereka kayuh selama ini tidak memiliki payung, sehingga mengharuskan mereka untuk mencari tempat untuk berteduh.

Namun bukan berarti ia berdagang tanpa risiko, kerap kalikehadiran petugas keamanan setempat membuatnya harus berlari-lari sembari membawa dagangan. Jika tertangkap, maka ia harus merelakan barang dagangan berikut peralatannya, sebuah termos air, serta dua buah keranjang plastik, disita. Jika ia mempunyai KTP DKI ia hanya cukup memperlihatkan KTP DKI tersebut ke petugas.

Ia mengaku pernah dirazia di sekitar Monas tapi karena dia mempunyai KTP DKI dia dibebaskan oleh petugas. Namun demikian, baik Anto maupun pedagang lainnya masih bingung untuk mengambil kembali barang dagangannya yang dirampas petugas Satpol PP.

Jika air panasnya sudah habis ,maka mereka tinggal mengisi di tempat-tempat pengisian air panas yang sudah disediakan, satu termosnya Rp2.000.

Zonasi Meskipun terdapat puluhan pedagang, mereka tidak merasa bersaing satu sama lain. karena mereka sama-sama berjuang mencari nafkah, dan merasakan susahnya mencari uang, jadi mereka saling berbagi tempat, jika di suatu tempat sudah ada yang berdagang, maka pedagang lain akan mencari tempat lain untuk berdagang. sehingga tidak terjadi bentrok ataupun perebutan wilayah di antara para penjual.

Namun hal itu tidak menjamin para pedagang dapat berdagang dengan tenang. Mereka selalu dikejar-kejar petugas keamanan. Maka ,para pedagang keliling tersebut sangat mengharapkan pemerintah untuk menyediakan tempat bagi mereka agar dapat berjualan dengan tenang dan aman, sehingga tidak perlu lagi was-was tehadap petugas.

Pedagang kopi keliling juga mengharapkan kepada petugas yang merazia apabila peralatan dan barang dagangan mereka disita mereka berharap supaya dikembalikan lagi, sebab kalau sudah disita dan tidak dikembalikan lagi mereka mengulang usaha dari nol lagi, bagaimana bisa dagangan mereka berkembang kalau setiap di razia selalu disita dan tidak dikembalikan lagi. (ant/BJ)