Home Headline Menanti Hasil Investigasi “Obat Anestesi Maut”

Menanti Hasil Investigasi “Obat Anestesi Maut”

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

LIPUTAN KHUSUS

Malang tak dapat ditolak oleh dua pasien Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, di pertengahan Februari 2015 lantaran harus meregang nyawa yang diduga salah suntikan obat anestesi.

Salah satu korban meninggal akibat anestesi bermasalah itu adalah RA. Dia meninggal diduga akibat kesalahan penggunaan obat injeksi.

Sementara korban lainnya adalah pasien urologi yang diduga tewas karena kasus serupa dengan RA.

Sontak, RS Siloam dan produsen obat PT Kalbe Farma mulai banyak diperbincangkan oleh media dan masyarakat. Banyak pihak yang memberi penghakiman dengan versinya masing-masing mengenai siapa yang salah apakah pihak rumah sakit, produsen obat atau distributornya.

RS Siloam menyatakan jika rumah sakit tersebut telah memberikan obat anestesi sesuai prosedur atau tidak ada kesalahan. Kasus meninggalnya dua pasien itu ditengarai karena label kemasan obat produksi dari PT Kalbe Farma itu tidak sesuai atau tertukar. Salah satu penandanya yaitu pasien lain tidak mengalami masalah meski menggunakan obat bius dengan jenis dan produsen yang sama.

Sedangkan, Kalbe Farma belum bisa berbicara banyak dan hanya bisa menarik dua produknya yang terkait insiden anestesi sejak 12 Februari 2015 secara berangsur-angsur.

Penarikan produk itu sesuai instruksi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan nasib dua obat bermasalah itu dibekukan sampai proses investigasi obat anestesi kelar.

Di pihak pemerintah, Menteri Kesehatan Nila Djuwita Farida Moeloek memilih untuk tidak tergesa-gesa memberikan penilaian dalam kasus obat anestesi yang merenggut dua nyawa itu.

“Harus kita lihat dari sisi rumah sakit, sisi industri dan distributornya (PT Enseval Putera Megatrading Tbk). Kita harus lihat. Kita tidak bisa menerima begitu saja untuk melihat bagaimana misalnya kok bisa sampai ada kesalahan,” kata dia.

Investigasi, kata dia, masih dalam proses sehingga belum dapat disimpulkan mengenai kronologi pasti dari insiden obat anestesi.

“Langkah pertama yang kami lakukan setelah mendapat laporan tersebut menghubungi BPOM. Karena kalau sudah disebut kesalahan obat tentu BPOM harus bertindak. Kami minta laporan terus untuk kasus ini, saya kira (investigasi) ini masih berjalan,” kata Menkes Nila.

Kasus obat suntik bermasalah itu sendiri bermula dari meninggalnya dua pasien lewat obat bius, Buvanest Spinal. Belakangan diketahui obat itu bukan Buvanest, melainkan obat Asam Tranexamat yang biasa dipakai untuk mengatasi pendarahan.

Sementara itu, Kepala BPOM Roy Sparringa pada Jumat, 27 Februari 2015 memastikan dua produk buatan Kalbe Farma ditarik 100 persen dari peredaran. Sebelumnya pada Rabu, 18 Februari 2015, BPOM menyebutkan 90 persen lebih obat anestesi telah ditarik.

Berdasarkan hasil investigasi BPOM, obat yang diproduksi PT Kalbe Farma pada tanggal 3 November 2014 itu seluruhnya berjumlah 26 ribu obat injeksi.

Lebih detil, penarikan dua obat itu adalah Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4 mililiter dan Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml bernomor batch 629668 dan 630025.

“Kami kawal terkait penarikannya dan itu semua ditarik, sudah diamankan di lapangan tidak ada lagi,” kata Roy.

Ia mengatakan Kalbe menarik produknya secara sukarela.

Roy mengatakan pihaknya masih melakukan investigasi lintas sektor dan belum dapat memastikan hasil akhirnya.

“Sabar nanti akan kami sampaikan kepada masyarakat. Tentu tidak ada yang kami tutup-tutupi. Jadi semua berjalan, kami lakukan investigasi lebih dalam. Tahapan berikutnya akan kami sampaikan dan kami laporkan. Tidak bisa dipastikan investigasi selesai satu atau dua bulan mendatang,” katanya.

Kepala Biro Hukum dan Humas BPOM Budi Djanu mengatakan dari proses pengamatan BPOm sejauh ini tidak ada masalah dari dua produk Kalbe Farma itu.

Insiden anestesi yang terjadi di RS Siloam itu kasuistik atau hanya terjadi pada dua obat di RS Siloam saja. Sementara obat yang telah ditarik lainnya tidak ada masalah.

Sejauh ini, BPOM juga sudah memberikan informasi kepada sejumlah pihak untuk sementara tidak menggunakan obat yang telah merenggut dua nyawa di RS Siloam tersebut, seperti ke Persatuan Dokter Spesialis Anestesiologis dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin).

Anestesi di Kedokteran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan (KBBI daring), anestesi merupakan hilangnya rasa pada tubuh yang disebabkan oleh pengaruh obat bius.

Anestesi di dunia kedokteran, akrab juga disebut sebagai pembiusan, yaitu proses untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh secara sementara, baik secara lokal atau total. Pembiusan dilakukan sebelum dilakukannya berbagai operasi pada pasien oleh tenaga medis.

Proses pembiusan sendiri merupakan salah satu spesialisasi dalam dunia kedokteran yang memerlukan ketelitian seorang tenaga medis, termasuk dengan zat yang digunakan untuk proses anestesi.

Kendati demikian, Menkes Nila F Moeloek tidak ingin masing-masing pihak saling menyalahkan.

“Saya menunggu sampai hasil investigasi terakhir yang betul, baru kita berani mengeluarkan agar tidak simpang siur. Kita tidak boleh saling menyalahkan,” katanya.

Menkes Nila Moeloek mengatakan tim investigasi dari Kemenkes dan BPOM akan terus berproses melakukan penyelidikan insiden obat anestesi.

Mengenai hasil, dikatakannya harus dikaji dulu secara seksama agar tidak ada pihak yang dirugikan karena pernyataan yang kurang teruji kredibilitasnya.

Dia berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa berikutnya. Selain itu, menkes ingin dampak obat anestesi bermasalah tidak meluas.

“Penarikan itu harus. Jika ada kesalahan seperti itu jangan sampai masyarakat lain terkena,” kata menkes. (ant/BJ)