Home Ekbis Memprihatinkan, Bawang Import Rajai Pasar Legi Solo

Memprihatinkan, Bawang Import Rajai Pasar Legi Solo

Siti pedagang bawang pasar Legi Solo.
Siti pedagang bawang pasar Legi Solo.
Siti pedagang bawang pasar Legi Solo.

Semarang, 18/6 (BeritaJateng.net) – Sungguh sangat memprihatinkan, sebagai negara agraris, ternyata kebutuhan bawang putih di pasar tradisional dikuasai oleh bawang import asal cina. Bahkan di Pasar Legi Solo, Bawang putih lokal tidak ditemukan sama sekali.

Temuan tersebut didapat oleh Anggota Komisi B DPRD Jateng saat melakukan sidak dalam rangka memantau perkembangan harga kebutuhan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri. Informasi yang disampaikan pedagang, Bawang putih import mempunyai kwalitas yang bagus dan harganya murah.

“Bawang dari Cina ini isinya bagus dan harganya murah. Orang lebih suka pakai bawang import,” ungkap Siti, pedagang Bawang, Kamis (18/6), saat ditanya dr Messy Widyastuti, Sekretaris Komisi B.

Bawang Import, di Pasar Legi Solo dijual dengan harga Rp. 16.000 sedangkan Bawang Putih lokal juga dijual dengan harga yang sama, namun tidak laku dan akhirnya dikuasai bawang import.

Dr. Messy kepada berita jateng mengungkapkan, dirinya merasa kawatir petani kita tidak bisa bersaing dengan dengan petani di negara lain karena mereka memiliki bibit unggul yang menghasilkan komoditas berkualitas tinggi dan merajai pasaran Bawang di Indonesia.

“Bawang dari Cina tesebut sangat padat, coba bandingkan dengan bawang kita yang kebanyakan tengahnya kopong,” katanya.

Dengan kwalitas buruk seperti itu bawang lokal ditinggalkan oleh masyarakat dan lebih memilih bawang import. Oleh karena itu, politisi PDI Perjuangan ini mengharapkan agar pemerintah bisa mengupayakan tersedianya bibit unggul dan penyuluhan cara penanaman dan perawatan bawang agar bisa menghasilkan bawang yang berkwalitas.

“Perguruan tinggi juga harusnya melakukan riset agar bisa menemukan benih unggul yang tidak kalah dari produk asing,” harapnya.

Senada dengan dr Messy, Anggota Komisi B lainnya, Didiek Hardiana mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Didik mengharapkan pemerintah segera turun tangan mencarikan solusi untuk menangkal serbuan komoditas dari negara lain di pasar pasar tradisional.

“Sebentar lagi kita menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia  (MEA) 2016, kalau kondisinya seperti ini saya kira kita belum siap. Produk pertanian kita kalah bersaing dengan produk asing,” beber Didiek.

Dari pantuan Komisi B di Pasar Legi Solo tersebut, harga harga kebutuhan pokok masih cukup tinggi dan belum mengalami penurunan sejak dua minggu terakhir. Beras kwalitas sedang masih bertahan di angka Rp. 8.500 – 9.000, gula pasir Rp. 11.600, Cabai Merah Besar Rp. 27.000, Cabe Merah Sedang Rp. 20.000, Gula Jawa Rp. 13.500, Daging Sapi Rp. 90.000 dan Daging Ayam 27.000 – 30.000. (BJ13)