Home Hukum dan Kriminal Masinton Bisa Bernafas Lega Laporan Penganiayaan Dita dicabut

Masinton Bisa Bernafas Lega Laporan Penganiayaan Dita dicabut

1003

 

Jakarta, 19/2 (BeritaJateng.net) – Masinton tampaknya bisa bernafas lega pasalnya Dita Aditia, korban kekerasan yang diduga dilakukannya resmi mencabut laporannya dari Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri.

Dita menyambangi Mabes Polri untuk mencabut laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan Masinton. Dia tak lama di dalam, hingga keluar Gedung Bareskrim, Dita tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada awak media. Dia menundukkan kepala sembari berjalan ke luar Kompleks Mabes Polri.

Direktur Tindak Pidana Umum Brigjen Agus Andrianto mengatakan, Dita menyambangi kantornya untuk mencabut laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan Masinton.

“Betul, Dita datang ke penyidik. Dia meminta laporannya dicabut dan meminta supaya perkaranya dihentikan,” ujar Direktur Tipidum Bareskrim Brigjen Agus Andrianto, di mabes Polri, Jakarta, Jumat (19/2).

Menurut Agus, bersamaan dengan pencabutan laporan itu, Dita juga memberikan surat pernyataan berdamai dengan Masinton kepada penyidik.

Dita melaporkan Masinton atas pemukulan yang dialaminya pada Kamis, 21 Januari 2016 malam. Masinton diduga telah memukul Dita. Karenanya, mata kanannya menjadi lebam. Dita mengaku kejadian itu terjadi seteleh dijemput Masinton dari sebuah bar di Jakarta Pusat.

Atas semua laporan itu, Masinton berkilah. Ia membantah memukul Dita. Namun, Masinton mengakui adanya peristiwa yang menyebabkan Dita mengalami luka memar di bagian wajahnya.

Bareskrim Mabes Polri sebelumnya juga menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik, polisi menemukan fakta bahwa pada saat kejadian Dita tidak dalam kondisi mabuk.

Kendati begitu, dia mengaku kasus dugaan penganiayaan terhadap Dita sudah diselesaikan secara kekeluargaan. “Sudah selesai, kekeluargaan. Sesuai dengan saran banyak pihak. Kami datang. Saling memaafkan, klarifikasi,” kata Masinton.

Selain ke Bareskrim, Dita juga melaporkan Masinton ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) melalui LBH APIK, pada 2 Februari 2016.

Terkait kasus ini, Mahkamah Kehormatan DPR (MKD) juga sudah mulai bekerja melakukan penanganan. MKD sudah mendatangi dua tempat yang berhubungan dalam peristiwa penganiayaan itu. Yakni ke RS Mata Aini, tempat Dita dirawat dan Kafe Camden, lokasi Masinton menjemput asistennya tersebut.

Wakil Ketua MKD Sufmi Dasco Ahmad mengatakan jajarannya akan terus melanjutkan penyelidikan dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan Masinton. Hal itu dilakukan karena belum adanya penarikan aduan secara resmi yang diterima MKD atas dugaan penganiayaan tersebut. Dia mengingatkan, perdamaian harus dituangkan dalam suatu surat dan pencabutan secara resmi.

“Kalau belum ada, maka kami anggap belum ada perdamaian dan proses terus berjalan,” ujar Dasco di Gedung DPR

Sebagai pendamping hukum Dita, Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan menghargai keputusan Dita meski cukup menyayangkannya.

“Iya kita menyayangkan keputusan Dita, tapi kalau itu yang menjadi pilihan kita serahkan sepenuhnya kepada Dita,” ujar Direktur LBH APIK Ratna Bantara Mukti di Jakarta, Jumat (19/2). (Bj50)

1 COMMENT

  1. Pada dasarnya, dalam suatu perkara pidana, pemrosesan perkara digantungkan pada jenis deliknya. Ada dua jenis delik sehubungan dengan pemrosesan perkara, yaitu delik aduan dan delik biasa.Dalam delik biasa perkara tersebut dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi, walaupun korban telah mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang, penyidik tetap berkewajiban untuk memproses perkara tersebut.

Comments are closed.