Home Headline Masih Ditemukan Balita dengan Gizi Buruk di Semarang

Masih Ditemukan Balita dengan Gizi Buruk di Semarang

Balita dengan Gizi Buruk di Semarang

Semarang, 18/6 (BeritaJateng.net) – Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang menemukan seorang bayi berusia 10 bulan yang mengalami Gizi Buruk di Jl. Perbalan Purwosari IV RT 03 RW 02, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara pada Kamis siang (17/6/2021).

Bayi berusia 10 bulan tersebut ditemukan atas laporan warga sekitar yang tidak tega melihat kondisinya.

Flora Indriyani, relawan TPD yang bertugas di wilayah Semarang Utara langsung menangani kasus tersebut. Ia mengaku prihatin terhadap kondisi bayi berjenis kelamin laki-laki itu.

“Kondisi fisiknya lemah, berat badan 5,9 kilogram, kurus, kalau makan atau minum sering keluar dari hidung, dan kalau menangis tidak keluar suaranya,” ungkapnya.

Namun sayangnya, saat Flora hendak membawa sang bayi ke Rumah Sakit, ibunya malah menolak dengan alasan bayinya baik-baik saja. Kendala lain yang membuat sang ibu enggan membawa bayinya ke Rumah Sakit karena kondisi ekonomi dan tidak memiliki kartu keluarga.

Suaminyapun hanya bekerja sebagai supir trailer. Ditambah status pernikahan mereka adalah nikah siri yang mengakibatkan kesulitan mendapatkan kartu keluarga dan kesulitan mengakses bantuan dari pemerintah.

“Ibunya mengaku tidak bisa mengobatkan Putra karena menikah siri, jadi tidak ada bukti identitas anak,” kata Flora.

Meski begitu, ironisnya si ibu bayi menganggap putranya baik-baik saja. Dirinya merasa tidak ada masalah dengan kesehatan bayinya. Sebab, kata Flora, sang ibu mengaku lulusan SMK Farmasi.

“Anaknya sakit sejak usia 2 bulan, karena tidak mempunyai identitas dan masalah ekonomi maka ibunya mengobati sendiri dari ilmu yang dia dapat dari sekolah farmasi,” urainya.

Saat ditanya apa penyakit si bayi, Folra mengaku belum mengetahuinya. Namun dengan kondisinya saat ini, Flora bersikeras membawa si bayi ke rumah sakit.

“Saya belum tahu persis sakitnya, karena belum pernah di bawa ke layanan medis, yang jelas ada cairan di parunya karena ibunya beli alat uap sendiri,” ungkap Flora.

Ibu sang bayi, sebut saja namanya Putri, terlihat tidak terima dengan banyaknya pihak-pihak yang “ikut campur” urusan bayinya. Putri mengaku akan mencari tahu orang di sekitar kontrakannya yang melaporkan kondisi Putra ke Dinas Sosial Kota Semarang.

“Dia menganggap anaknya tidak bermasalah, dan dia mau mencari tetangga yang lapor ke Dinsos,” tambah Flora.

Untuk diketahui, nasib bayi 10 bulan tersebut terbongkar akibat adanya laporan dari Kesos Kelurahan Purwosari Kecamatan Semarang Utara. Dalam laporannya menyatakan adanya anak telantar yang mengalami gizi buruk sejak usia 2 bulan. Bayi usia 10 bulan hanya memiliki berat badan 5,4 kg dan belum pernah dibawa berobat oleh ibunya.

“Kami sudah koordinasikan dengan Dinsos untuk membawa anak itu ke RSUD KRMT Wongsonego supaya mendapatkan perawatan,” jelasnya.

Saat bertemu keluarga bayi tersebut, Flora mengaku ada respons tidak baik dari ibu bayi tersebut. Akan tetapi karena kegiatan tersebut melibatkan aparat pemerintah, maka aksi kemanusiaan tersebut dapat berjalan mulus.

“Sebenarnya tidak mau, dengan alasan tidak tega kalau melihat anaknya di RS nanti ditusuk jarum tangannya. Karena ada pak Babinsa dia jadi takut dan mau. Maka kami rujuk dengan administrasi berupa rekomendasi dari Dinsos Kota Semarang,” bebernya.

Namun karena RS Wongsonegoro sedang penuh karena banyaknya penderita Covid-19 yang masuk, sambungnya, maka bayi yang sedianya akan dirawat inap, saat ini harus menjalani rawat jalan.

Selain itu, pihak TPD juga berusaha membujuk orangtua anak untuk segera menikah resmi di KUA agar mempunyai Kartu Keluarga untuk mengurus UHC BPJS Kota Semarang demi anaknya.

Sementara, Kabid Rehabsos Tri Waluyo mengatakan, pihaknya akan terus mengupayakan kesejahteraan warga Kota Semarang.

“Kami, Dinsos Kota Semarang berusaha membantu, memenuhi kebutuhan warga sesuai dengan kapasitas dan amanat pemerintah,” ucapnya.

Ia pun menyayangkan tindakan ibu bayi yang menolak bantuan pemerintah. Ia pun berharap masyarakat dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

“Sudah jelas kondisinya demikian, dan kami bisa membantu memberi pelayanan medis yang lebih memadai di rumah sakit. Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” tuturnya. (Ak/El)