Home Headline Mantan Pemilik PT. Indo Tirta Jaya Abadi Jalani Pra Peradilan

Mantan Pemilik PT. Indo Tirta Jaya Abadi Jalani Pra Peradilan

256

SEMARANG, (2/7) – mantan pemilik PT indo Tirta Jaya Abadi Oenny Jauwhannes jalani sidang Pra Peradilan melawan Polrestabes Semarang. Dalam sidang yang berlangsung Rabu (1/7), terungkap oknum penyidik pernah minta gugatan tersebut dicabut.

Hal tersebut diketahui dari kesaksian salah satu karyawan Oenny, Michaella, di Pengadilan Negeri Semarang.

“Saat itu saya juga dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik. Saya sebafai staff bagian administrasi. Saat Pak Oenny diperiksa ada yang bilang kalau Pra peradilan dicabut saja,” kata Michaella di hadapan hakim M Yusuf, Rabu (1/7).

Michaella dalam keterangannya menambahkan dirinya mengetahui adanya akta pengakuan hutang Oenny nomor 03 dan nomor 04 tanggal 15 September 2015.

“Karena saya sebagai bagian administrasi, saya juga tahu adanya surat akta pengakuan hutang tersebut. Tapi saat diperiksa Pak Oenny diberitahu kalau masalah itu adalah penyertaan modal. Padahal bukti pengakuan hutangnya ada,”tandasnya.

Menurut Michella, saat itu Oenny mengajukan utang kepada mantan kepala keuangan PT. Indo Tirta Jaya Abadi, Godeliva. Setelah itu, barulah muncul akta pengakuan hutang tersebut.

“Kalau Godeliva mencari hutang di mana saya tidak paham. Setahu saya Pak Oenny juga tidak tahu utangnya dari mana. Namun akhirnya akta pengakuan hutang itu dibuat,”tambah dia.

Usai sidang, kuasa hukum Oenny, H. Boedhy Koeswharto, mengatakan adanya upaya penekanan terhadap kliennya. Dia sangat menyayangkan hal tersebut dapat terjadi.

Meski demikian, Boedhy optimis kliennya tidak bersalah. Menurutnya, perkara ini adalah murni masalah perdata. Dia juga mengacu pada UU Nomor 35 Tahun 1999 Pasal 19 ayat 2 Tentang Hak Asasi Manusia terkait kliennya tersebut.

“Dari keterangan ahli Prof. Lisdiyono dan Dr. Kastubi, kami simpulkan ini perkara perdata. Terkait UU HAM, berbunyi seseorang yang melakukan wanprestasi tidak mempu memenuhi kewajiban hutangnya, tidak bisa dipidana,”terang Boedhy didampingi ketua Ikadin Jateng, Rangkey Margana.

Gugatan ini bermula saat Oenny dilaporkan ke pihak kepolisian oleh Vincentus Robert Sulistio dengan Nomor laporan Nomor LP/B/23/I/2020/Jateng/Restabes SMG tanggal 13 Januari 2020.

Menurut Boedhy subyek dan obyek hukumnya sama dengan laporan Almarhum Samuel H Sulistio LP/B/216/V/2018/Jateng/Restabes SMG tanggal 17 Mei 2018.

“Atas laporan almarhum Samuel, pihak kepolisian membuat surat keterangan SPPP Nomor S.TAP/89c/III/2020/Restabes pada tanggal 27 Maret 2020,”terangnya.

Lebih jauh, Boedhy mengatakan kliennya telah membayarkan hutang pokok sebesar Rp. 7.250.000.000,- dari utang sebesar Rp. 11.500.000.000,-. dan membayar bunga sebesar Rp. 5.332.339.142,-.

“Karena perusahaan klien kami mengalami pailit, maka sisa kekurangan bayar hutangnya menjadi boedoel pailit dan pembayarannya menjadi beban kurator dan pengurus pailit,” tutup dia.

(NK)