Home Hukum dan Kriminal LPSK Temui Korban Penganiayaan dan Para Saksi  

LPSK Temui Korban Penganiayaan dan Para Saksi  

image
Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu. (Beritajateng.net/pjh)

Kudus, 17/12 (Beritajateng.net)-Tiga petugas Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dipimpin Wakil Ketua Edwin Partogi Pasaribu mendatangi kediaman korban penyiksaan yang diduga dilakukan oknum petugas Polres Kudus, Kuswanto (29). Kedatangan Edwin beserta dua stafnya tersebut, dimaksudkan untuk mendalami permohonan perlindungan yang diajukan Kuswanto.  

“Saudara Kuswanto datang ke LPSK memohon perlindungan pada 25 November 2014 lalu. Kedatangan kami sebagai bagian dari proses proses pendalaman apakah permohonan tersebut bisa dikabulkan atau tidak,” kata Edwin kepada Beritajateng.net usai melakukan wawancara dengan Kuswanto dan para saksi, Rabu (17/12).  

Selain itu, Edwin juga melihat lokasi yang dikatakan menjadi tempat penyiksaan. “Kami ingin mengetahui secara mendalam kronologi maupun latar belakang hingga kejadian tersebut terjadi,” imbuhnya.  

Disinggung apakah Kuswanto akan masuk dalam perlindungan LPSK, Edwin menegaskan ada empat hal yang menjadi dasar pertimbangan. Diantaranya seberapa penting posisi pemohon untuk minta perlindungan, seberapa besar potensi ancaman ancamannya, rekam medis dan kondisi psikologis pemohon, serta track record dari pemohon.

Ditambahkan, hasil pendalaman dalam kejadian ini nantinya akan dibawa ke dalam rapat pleno komisioner. Dari forum tersebut, nantinya yang akan diputuskan apakah permohonan Kuswanto bisa dikabulkan atau tidak. Sejak memasukkan permohonan oleh korban atau saksi, akan  diproses paling lama 30 hari, atau tepatnya paling lambat akan ditentukan pada 25 Desember 2014 mendatang, tegasnya.  

“Untuk kasus Kuswanto ini kami pikir masuk dalam kategori permohonan biasa, bukan mendesak yang harus dikabulkan seketika. Intinya, ketika Kuswanto dikemudian hari dibutuhkan kesaksiannya, bisa dengan bebas menyampaikan apa yang diketahui dan dialami tanpa ada tekanan atau rasa takut dari siapapun,” tambahnya.  

Meski begitu, pihaknya akan memperhatikan kemungkinan adanya upaya kriminalisasi dan tuntutan balik dari pihak berperkara karena hal tersebut masuk kategori ancaman. “Keberanian korban melapor tidak boleh dicari-cari kesalahannya. Sejak korban datang ke LPSK, esok harinya kami langsung berkoordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri, dan kasus ini mendapat atensi dari pimpinan Polri,” tegasnya.  

Terkait adanya kesepakatan damai antara Kuswanto dengan aparat yang menyiksanya, menurut Edwin hal tersebut tidak menggugurkan perkara pidana yang sudah terjadi. Menurutnya, peristiwa yang dialami Kuswanto adalah pidana murni bukan delik aduan yang bisa diselesaikan melalui kesepakatan.

Artinya, perjanjian damai yang sudah ditandatangani Kuswanto dengan pelaku tidak bisa menghalangi proses hukum pidananya. Setelah menemui Kuswanto dan keluarganya serta para saksi-saksi, ia mengatakan besok akan ke Polda Jateng.

Sementara itu menurut Kuswanto, dirinya mengaku sangat berharap permohonannya dikabulkan. Setelah kasus ini dilaporkan ke Kontras dan beritanya mencuat diberbagai media, ia dan keluarga merasa ketakutan dan terancam. “Tiap hari saya dan keluarga selalu merasa ketakutan,” ujarnya. (pjh/pj)