Home Headline Limbah Kerajinan Batok Kelapa  Diteliti Peserta PIRN XVII

Limbah Kerajinan Batok Kelapa  Diteliti Peserta PIRN XVII

586
0
Limbah Kerajinan Batok Kelapa  Diteliti Peserta PIRN XVII
       Purbalingga, 12/7 (BeritaJateng.net) –  Batok kelapa yang merupakan limbah dari buah kelapa yang banyak dijumpai dan diremehkan oleh masyarakat ternyata bisa dijadikan produk yang memiliki nilai jual. Setelah dijadikan sebagai kerajinan pun batok masih menghasilkan limbah hasil pengerjaan.
       Dari sinilah peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) ke XVII bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melakukan penelitian terhadap limbah dari kerajinan batok kelapa yang bertempat di Kelurahan Purbalingga Wetan tepatnya di Rt 01/01. Ternyata dari limbah kerajinan batok tersebut, para peserta ini mengamati serbuk kayu pohon dan batok kelapa ternyata mampu dijadikan sebagai media tanam.
       Hal ini diungkapkan oleh Ketua Paguyuban Manunggal Karya, Sutrisno saat dijumpai di lokasi pengrajin batok setelah mendapatkan kunjungan dari peserta PIRN. Ia mengaku selama ini menjual limbah kerajinan batok kelapa sebagai kayu bakar saja.
       “Selama ini sebenarnya limbahnya ini dipakai cuma untuk kayu bakar atau mungkin untuk diteliti untuk bisa buat apa ada nilai jualnya lebih kan gak tau,” ungkap Sutrisno saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan batok kelapa, Rabu (11/7).
       Menurutnya, limbah dari kerajinan batok kelapa memang masih memiliki nilai jual seperti tepung dari hasil penghalusan kerajinan batok kelapa bisa dimanfaatkan untuk media tanam. Media tanam dari serbuk kelapa ini tidak hanya diteliti dari peserta PIRN melainkan juga dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
       “Yang media tanam yang meneliti dari perguruan tinggi UMP saat ini masih proses dari penelitian,” katanya.
       Mendapatkan kunjungan dari peserta PIRN ke XVII sangatlah membantunya untuk mengembangkan kerajinan batok dan lebih meminimalisisir limbah yang dihasilkan. Jadi, lanjutnya barang-barang yang memang sudah limbah sebisa mungkin dapat dijadikan nilai jual yang lebih. “Dari sini kita memperkenalkan dalam artian bahwa di Purbalingga Wetan punya usaha kecil khususnya Rt 1/1 ada satu usaha mikro UKM yang terbuat dari limbah yang menghasilkan hasil yang luar biasa,” terang Sutrisno.
      Bahan baku yang diambil oleh Sutrisno untuk membuat kerajinan dari batok kelapa berasal dari daerah sekitar Purbalingga Wetan dan kecamatan lain di Purbalinga. Dari limbah ini lah, ia berharap dapat menjadikan produk bernilai jual yang lebih tinggi.
Relasi Industri Batok Kelapa dan Masyarakat Baik
Selain penelitian ilmiah terkait limbah dari kerajinan batok kelapa, peserta PIRN bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan (IPSK)  juga meneliti tentang lingkungan kerja industri batok kelapa. Bagaimana pengaruh kayu glugu dan batok kelapa terhadap keseharian masyarakat sekitar.
       “Tentang hubungan masyarakat dan relasi sosialnya antara pekerja pabrik batang glugu dengan masyarakat umumnya,” papar Slama salah satu anggota tim yang meneliti kajian tersebut.
       Setelah diteliti, menurut Salma kegiatan pengrajin batok kelapa tidak mengganggu aktivitas keseharian masyarakat sekitar. Justru hubungan yang dihasilkan sangatlah baik karena di sekitar industri tersebut warga sekitar dapat ikut serta bekerja dan mencari rejeki dari membuat kerajinan batok kelapa dan kayu glugu.
“Hubungan pekerja dan masyarakat di sini sangat baik kemudian limbah yang dihasilkan pun tidak mengganggu aktivitas warga sekitar pabrik,” ujarnya. (yit/El)