Home Ekbis Lemahnya Rupiah Karena Penggunaan Dollar Dominan

Lemahnya Rupiah Karena Penggunaan Dollar Dominan

Ilustrasi

image

Solo, 3/1 (BeritaJateng.net) – Mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi diatas tujuh persen dan juga mengantisipasi melemahnya rupiah  pemerintah harus mengendalikan lemahnya rupiah melalui pengendalian atau restrukturisasi  utang swasta dalam bentuk dollar.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Malik Cahyadi, mengatakan pemicu menguat dollar atas rupiah salah satunya bahan baku produksi di Indonesia kebanyakan masih import. Praktis mata uang yang digunakan adalah dollar. Termasuk utang swasta juga menggunakan dollar.  

“Selain itu pemerintah juga harus bisa melakukan pengendalian import bahan baku industri dalam bentuk dolar dan juga percepatan infrastruktur,”jelas Malik, Sabtu.

Melemahnya rupiah karena salah satu penyebabnya adalah minyak yang selama ini disubsidi pemerintah masih import. Kemudian transaksi menggunakan dolar juga lebih dominan.

Salah satu contohnya adalah dalam industri Tekstil dan Produk Tesktil  (TPT) ketika import  kapas harus dari luar negeri. Karena kapas dari dalam negeri kurang cocok kwalitasnya.

Namun yang jadi persoalan apakah harus melakukan import kapas. Apakah di salah satu wilayah Indonesia dijadikan klaster penghasil kapas dan benang.

“Kalau tidak bisa harus import, dan butuh dolar dalam jumlah yang banyak di wilayah Indonesia, rupiah juga akan tetep sulit untuk menguat,” jelasnya.

Sedangkan ada saat yang bersamaan ungkap Malik, banyak  perusahaan-perusahaan swasta  juga harus melakukan pembayaran utang luar negeri yang juga menggunakan dolar.

Melemahnya rupiah yang bisa meredam adalah presiden bersama dengan jajarannya. Pemerintah beranggapan  meningkatkan pertumbuhan ekonomi bisa mampu meningkatkan ekspor itu hal yang tidak masuk akal.

Pada saat presiden menggenjot pertumbuhan ekonomi, presiden juga harus memikirkan darimana bahan baku dan tekhnologi di peroleh.
Sedangkan selama ini bahan baku dan juga tekhnologi berasal dari luar negeri.

Dan pastinya akan membunuh rupiah, karena Indonesia membutuhkan banyak dolar untuk memesan bahan baku dan mendatangkan tekhnologi dari luar.

Seharusnya ungkap Malik, untuk saat ini Presiden dan timnya tidak usah terburu-buru untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi yang tujuh persen.

“Tapi stabilisasi ekonomi yang paling utama. untuk mengendalikan utang swasta dengan dominasi dolar, dan juga pengendalian imporortasi bahan baku dari dominasi dolar. Itu yang paling penting,” terangnya.

Malik menilai saat ini pemerintah hanya mengejar janji-janji pada saat pemilu lalu. Dan itu sangat berbahaya untuk jangka panjang.
Jika pemerintah fokus untuk stabilisasi ekonomi dengan membangun perguruan tinggi dan sekolah untuk menghadapi persaingan pasar itu jauh lebih baik.

“Jadi intinya kita fokus untuk menjual SDM unggul dari pada kita harus fokus mengejar pertumbuhan ekonomi tujuh persen,” tegasnya.

Jika tidak hati-hati dalam menetapkan posisi maka Indonesia bisa jadi korban Asean Community dan pasar global yang didominasi dolar. (BJ24)

Advertisements