Home Hukum dan Kriminal Lakukan Investasi Bodong Seragam Sekolah, Guru SD Simongan Divonis 12 Tahun Penjara...

Lakukan Investasi Bodong Seragam Sekolah, Guru SD Simongan Divonis 12 Tahun Penjara  

Aristya divonis hakim 12 tahun penjara karena lakukan investasi bodong seragam batik sekolah

Semarang, 1/5 (BeritaJateng.net) – Vonis 12 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang pada Aristya Eks guru SD Negeri 1 Ngemplak, Simongan, kota Semarang atas perkara penipuan investasi bodong pengadaan seragam batik SD-SMA di Kota Semarang.

Aristya dianggap terbukti melanggar Pasal 378 KUHP tentang Penipuan serta Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 8/ 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Aristya bersama suaminya Yohanes Onang Supotiyo Budi menggunakan Surat Pelaksanaan Kegiatan (SPK) dari Dinas Pendidikan Kota Semarang seolah olah sebagai pihak yang memenangkan tender pengadaan barang berupa batik untuk seragam sekolah SD hingga SMA di Kota Semarang. Arista mengajak ratusan investor dari berbagai daerah di Indonesia untuk menanamkan modalnya dalam usahanya itu.

Ternyata diperkara lain sebagai debitur Arista juga telah diputus pailit oleh majelis hakim Pengadilan Niaga Semarang akibat kasus investasi bodong pengadaan seragam batik SD-SMA Semarang yang pernah dilakukannya bersama suaminya Yohanes Onang Supitoyo.

Bahkan Balai Harta Peninggalan (BHP) selaku kurator atas perkara perdata tersebut akan segera menelusuri aset yang dimiliki Aristya setelah selesai memverifikasi data aset yang dimiliki Aristya terhadap 120 kreditur yang telah pailit dengan total piutangnya sekitar Rp 14 miliar. Namun demikian para kreditur masih optimis dan berharap uangnya yang lenyap akan kembali.

Kuasa hukum Aristya, Wahyu Rudi Indarto mengaku tidak akan mempermasalahkan apabila kurator ingin menelusuri aset kliennya. Menurutnya saat ini kliennya sudah tidak memiliki apa-apa lagi, sehingga ia mempersilahkan, apabila ada yang menemukan aset ia berharap untuk segera dibagikan ke para kreditur.

”Aset batik di kantor Arista senilai Rp 1 miliar sudah diambil salah seorang kreditur, mobil-mobil juga sudah diserahkan ke pihak leasing,” kata Wahyu kepada wartawan, Minggu (1/5/2016).

Wahyu juga mengaku sudah mengetahui ada tersangka lain dalam perkara pidana yang menjerat kliennya tersebut, namun masalah tersebut ia serahkan sepenuhnya ke penyidik Polrestabes Semarang selaku yang menangani perkaranya.

”Terpenting perkara pidana yang dihadapi klien kami (Aristya,red) agar benar-benar bisa dituntaskan,” ujarnya. (MG2)