Home Lintas Jateng KPA Kendal Bentuk Satgas Peduli AIDS

KPA Kendal Bentuk Satgas Peduli AIDS

image

Kendal, 1/12 (Beritajateng.net)– Guna menanggulangi tingginya jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten Kendal, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menggandeng warga untuk membentuk satgas peduli AIDS. Hingga saat ini sudah terbentuk satgas di 51 desa yang akan membantu KPA melakukan penyuluhan dan upaya penanggulangan.

Pengelola program KPA Kabupaten Kendal, Dewi Fatma menjelaskan pembentukan satgas sudah dimulai pada awal tahun 2014. Namun hingga kini belum dapat menyeluruh di semua desa. Rencananya dalam waktu dekat pembentukan satgas akan diintensifkan. Sehingga nantinya di setiap desa akan memiliki satgaspeduli AIDS.

“Dari 286 desa di Kabupaten Kendal, 51 diantaranya sudah dibentuk satgas peduli AIDS. Sayangnya tidak semua satgas yang sudah terbentuk memiliki Surat Keputusan dari desa masing-masing. Kami akan segera mendorongnya,”ujarnya saat ditemui Beritajateng.net pada Senin (1/12) yang bertepatan pada hari AIDS sedunia.

Dewi menambahkan angka penderita HIV-AIDS di Kabupaten Kendal dari bulanJanuari hingga Oktober 2014 mencapai 424 orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan drastis dari tahun 2013 lalu yang hanya 321 orang. Dari total penderita di tahun 2014, 276 diantaranya baru terjangkit HIV. Sedangkan 148 orang sisanya sudah positif menderita AIDS.

“Wanita memiliki persentase yang jauh lebih besar sebagai Orang  Dengan HIV-AIDS (ODHA) dibandingkan dengan pria. Untuk yang baru terjangkit HIV, persentase wanita mencapai 73 persen. Sedangkan untuk positif AIDS mencapai 52 persen. Semuanya terdiri dari Pekerja Seks Komersil dan ibu rumah tangga di urutan pertama dan kedua,” tambahnya.

Meskipun persentase ODHA lebih tinggi perempuan dibandingkan laki-laki, lanjut wanita berhijab ini, namun diduga penyebaran lebih banyak dilakukanoleh kaum pria. Sehingga disarankan penderita pria untuk mau melakukan tes VCT agar mendapat penanganan lebih dini. “Banyak pria yang memiliki faktor resiko tinggi untuk terjangkit tidak mau memeriksakan diri karena malu bahkan takut terhadap statusnya HIV mereka,” pungkasnya. (DK/pj)