Home Lintas Jateng KPA Boyolali Imbau Pemerintah Bangun Fasilitas Rehabilitasi

KPA Boyolali Imbau Pemerintah Bangun Fasilitas Rehabilitasi

Boyolali, 1/12 (BeritaJateng.Net) – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Boyolali, Jawa Tengah, mengimbau pemerintah daerah setempat segera membangun fasilitas rehabilitasi bagi penderita HIV/Aids, karena jumlahnya terus meningkat.

Dari hasil pendataan KPA setempat, dari 179 orang penderita HIV/AIDS, sebanyak 35 orang di antaranya, ibu rumah tangga, kata Ketua KPA Boyolali, Agus Purmanto, seusai acara peringatan Hari AIDS se-Dunia di Boyolali, Senin.

“Data penderita AIDS di Boyolali itu terungkap dari hasil pemetaaan hampir di seluruh kecamatan ada,” katanya Menurut Agus Purmanto, dari hasil pemeriksaan melalui “Voluntary Counseling Test” (VCT) terhadap sebanyak 1.700 ibu-ibu hamil pada pekan lalu, 17 orang di antaranya, terindikasi terkena HIV/AIDS.

Jumlah penderita AIDS terus bertambah, katanya. Untuk itu pihaknya meminta Pemerintah Kabupaten Boyolali segera menyediakan fasilitas rehabilitasi untuk karantina bagi penderita, karena pemerintah setempat belum memiliki.

Menurut dia, dengan adanya karantina diharapkan sebagai tempat penampungan sementara bagi penderita AIDS menjalani pengobatan.

“Pemkab diharapkan dapat menyediakan fasilitas karantina bagi penderita AIDS paling tidak untuk kapasitas 20 orang,” katanya.

Penderita AIDS yang dikarantina akan lebih nyaman dalam menjalani pengobatan, mengingat pengobatan akan memberikan efek samping yang luar biasa bagi penderitanya.

Menurut Agus Purmanto, dengan perawatan itu, misalnya kulit penderita akan menjadi seperti melepuh dan keluar bercak-bercak warna hitam.

Namun, setelah dikarantina mereka akan mendapatkan perawatan dan dapat menjalani hidup seperti orang biasa pada umumnya, jelasnya Menyinggung soal alokasi anggaran yang diperoleh oleh KPA Boyolal, Agus Purmanto menjelaskan bahwa dana yang diperoleh dari APBD 2015 diperkirakan mencapai Rp300 juta. Anggaran itu, untuk kegiatan penanggulangan HIV/AIDS di Boyolali.

“Kami sejak 2014 sudah mendapatkan anggaran dari APBD. Meskipun, anggaran belum banyak, tetapi pada tahun 2015 sudah ada peningkatan menjadi sekitar Rp300 juta,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya berharap kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan dapat menurunkan program-program yang memperbaiki mental dan moral manusia terhadap penderita.

“Kami akan fokus menyinergikan kegiatan-kegiatan dalam rangka penanggulangan penyakit itu,” katanya.

Meskipun, kata dia, penanggulangan penderita HIV/AIDS merupakan tugas pemerintah, tetapi Agus Purmanto berharap ada sinergi antara swasta, tokoh agama, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pengetahuan tentang HIV/AIDS di masyarakat.

“Kami dalam pemetaan penderita HIV/AIDSdi Boyolali, sebelumnya lebih banyak melakukan pemantauan ke sejumlah lokasi pemberhentian truk. Namun, kini pemantauan juga dilakukan di kalangan ibu rumah tangga,” kata Agus Purmanto. (ant/pri)