Home Hukum dan Kriminal Korupsi Proyek Pengadaan Alat Praktik Peraga SD Disdik Kendal Terus Bergulir

Korupsi Proyek Pengadaan Alat Praktik Peraga SD Disdik Kendal Terus Bergulir

Suasana sidang putusan korupsi dana pendidikan pemkab Kendal.

**Tak Terima Putusan Hakim, Ana Berencana Laporkan Kasus Ke KPK

Semarang, 23/4 (BeritaJateng.net) – Kasus korupsi proyek pengerjaan dan pengadaan alat praktek peraga Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal tahun 2012 telah menjatuhkan vonis hakim paling berat dari majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang pada Mardiana alias Ana Pemilik Lahan kantor CV Aurora Puspita.

Mardiana alias Ana Pemilik Lahan kantor CV Aurora Puspita di vonis selama 3 tahun dan denda Rp 50juta subsidair 2 bulan kurungan. Bukan hanya itu, majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pengembalian uang pengganti (UP) Rp 1,7 miliar subsidair 2 tahun, selain itu menjatuhkan biaya perkara Rp 5ribu.

Tak terima dengan vonis berat yang hanya dijatuhkan padanya, Ana berencana melanjutkan dan melaporkan berkas ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk meminta keadilan.

Ketika ditemui wartawan di Lapas Wanita Semarang, terpidana Ana langsung blak-blakan (terbuka) menyebutkan siapa saja yang berperan dalam perkara tersebut, ia juga menyebutkan siapa penerima aliran dana Rp 1,7 miliar atas proyek tersebut.

”Laporan ke KPK akan segera dikirimkan, saya tidak terima kenapa korban atas perkara ini hanya kami saja, ini tidak adil. Kami akan minta keadilan di KPK supaya perkara ini diungkap lagi,” kata Ana saat ditemui wartawan, Jumat (22/4).

Ana menyatakan tidak diterima divonis paling berat, ia meminta para pelaku lainnya segera diseret. Demikian pula mengenai UP yang dibebankan kepadanya seharusnya juga dibebankan kepada pelaku lain termasuk aktor intelektualnya PT Prima Duta Nusantara (PT PDN).

”Kenapa mereka (saksi dianggap pelaku,red) tidak dihadirkan disidang. Padahal jelas dalam BAP (berita acara pemeriksaan,red) juga disebutkan menerima uang. Muryono dan PT PDN juga menerima uang, ini penyidik tebang pilih,” tandasnya.

Ana juga mengaku dalam proyek tersebut dirinya hanya bertugas mengalirkan uang bukan pemilik perusahaan atau lainnya, bahkan ia mengaku tidak menerima sepeserpun uang dari proyek tersebut.

”Saya nggak terima proses pembuatan rekening Bank Muamalat Jogja dipalsukan, tapi yang memalsukan ndak kena penjara. Termasuk yang rekayasa mencairkan rekening ndak kena. Saya tidak makan serupiahpun malah dipenjara,” ungkapnya.

Ana juga menyebutkan, orang paling bertangungjawab atas proyek tersebut adalah jajaran PT PDN, Ahmad Dahlan (Komisaris), Widoyo (Direktur), Agung Wahono (Manager Project area Jateng), Abdul Muin dan Subur Haryanto (Marketing) serta Direktur CV Aurora Puspita Ahmad Djunaedi.

”Berdasarkan fakta persidangan uang sejumlah Rp 1,7 miliar yang mengalir dari rekeningku adalah uang Ahmad Dahlan sebagai biaya operasional PT PDN di wilayah Jateng yang dipimpin Agung Wahono,” kata Ana sembari melihat pledoi pribadinya.

Menurutnya, CV Aurora Puspita hanya dipakai nama oleh PT PDN untuk memenuhi syarat administrasi dan legalitas sebagai penyedia jasa. Ana juga menyebutkan, Ahmad Dahlan pernah mentransfer uang kepada dirinya sebesar Rp 1,7miliar.

”Uang tersebut oleh Widoyo dialokasikan untuk digunakan biaya operasional perusahaannya di Jateng. Ahmad Dahlan kemudian memerintahkan saya agar uang tersebut diberikan ke Agung Wahono,” sebutnya (MG2).