Home Kesehatan Korban Bencana Alam Di Semarang Gratis Berobat Di RSUD KRMT Wongsonegoro

Korban Bencana Alam Di Semarang Gratis Berobat Di RSUD KRMT Wongsonegoro

Wakil walikota Semarang meninjau lokasi longsor.

Semarang, 15/2 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang memprioritaskan pasien korban bencana alam dengan menggratiskan biaya rumah sakit di RSUD KRMT Wongsonegoro, Semarang.

“Kalau urgent, langsung bawa saja korban longsor atau banjir bandang ke RSUD KRMT Wongsonegoro, kalau ada BPJS atau Jamkesmaskot nanti kami uruskan. Gratis,” ujar Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Hal ini disampaikan mbak Ita sapaan akrab Hevearita saat meninjau korban bencana longsor dibeberapa titik wilayah di kota Semarang.

Salah satu korban longsor di Perum Mega Residence Blok A 1 No. 7 Rt 12/6 kelurahan Pudakpayung, Bisri Hanadi mengaku kaget saat menerima kabar bahwa putra sematawayangnya terkena reruntuhan longsor berupa batu dari talud yang longsor.

Menurutnya, dua rumah miliknya dan milik tetangganya Sugeng tertimpa talud  tanah milik Pamuji. Saat kejadian, menurut Bisri, putranya jadi salah satu korban dengan luka parah akibat talud longsor.

“Putra saya saat itu lagi makan malam. Kondisi masih hujan, terus tiba-tiba ada suara gemuruh. Anak saya sudah kejepit meja makan dan batu-batuan,” ujarnya.

Muhammad Istigfar Ramadhan (16), putra Bisri Hanadi langsung dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth. Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Ungaran itu mengalami patah pada jempol kaki dan pendarahan paru-paru akibat syok dan tertimpa material longsor. “Sekarang kondisinya udah sadar, sudah bisa komunikasi,” katanya.

Ia menjelaskan, sebelum longsor, pihaknya telah was-was dan curiga saat melihat ada talud yang retak-retak. “Waktu itu kondisinya sudah retak taludnya. Sempat dibahas jug di rapat RT pada hari Minggunya, eh.. malah Seninnya kejadian. Kami berharap ada bantuan dari Pemkot Semarang,” imbuhnya.

Tak berhenti disitu, di Kampung Grogol RT 5/3 kelurahan Pudakpayung, longsor juga meratakan teras dan halaman belakang milik Warto. Menurutnya, sejak berdiri pada tahun 2012, sudah tiga kali rehan dan perbaikan talud. Namun pada akhirnya tetap longsor. “Padahal tiga kali perbaikan dan menghabiskan Rp. 60 juta untuk pondasi, tapi tetap saja longsor,” imbuhnya. (El)

Advertisements