Home Nasional Korban Air Asia yang Teridentifikasi Dimakamkan di Sidoarjo

Korban Air Asia yang Teridentifikasi Dimakamkan di Sidoarjo

Surabaya, 31/12 (Beritajateng.net) – Salah satu korban jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 yang teridentifikasi, Hayati Lutfiyah (39) warga Jalan Ketintang Baru Selatan 5 B Nomor 16 Kota Surabaya akan dimakamkan di Desa Sawo Tratap, kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jatim.

“Saya ini mau ke Rumah Sakit Bayangkara untuk menjemput jenazah adik ipar saya. Kalau seadainya bisa saya bawa pulang malam ini, ya saya bawa terus dimakamkan,” kata kakak ipar almarhumah, Erna Susanti saat dikunjungi Antara di kediamannya di Jalan Nala Nomor 14 Desa Sawo Tratap, Kecamatan Gedangan, Siaorajo, Rabu.

Saat ditemui, terlihat hanya ada beberapa tetangga dan teman dekat yang berkunjung ke tempat tinggal kakak ipar almarhumah Hayati Lutfiah. Di bagian sudut depan rumah, terpampang tiga foto yang ikut menjadi korban jatuhnya Air Asia QZ8501 yang terdiri atas foto Joko Suseno (40), Hayati Lutfiyah, (39), Naura Kanita (9), dan Sumami (64).

Joko Suseno tak lain adalah adik kandung Erna Susiati. Naura Kanita adalah anak dari Joko Suseno dan Erna Susiati. Sedangkan Sumami adalah ibu kandung Joko Suseno dan Erna Susiati.

Dari keempat korban ini, yang baru teridentifikasi adalah Hayati Lutfiah. “Saya tahu kalau temuan salah satu jenazah pesawat Air Asia ini adalah adik ipar saya itu dari Pak RT. Saya tahu sekitar pukul 14.00 WIB,” katanya.

Dengan mata berkaca-kaca Erna menceritakan, awalnya dia menghubungi Ketua RT ini untuk mematikan lampu rumah adiknya yang ada di Jalan Ketintang Baru Selatan 5 B Nomor 16.

Saat percakapan lewat telepon itulah Pak RT memberitahukan bahwa, salah satu jenazah yang berhasil diidentifikasi tim pencari Air Asia QZ8501 adalah Hayati Lutfiah. Sedangkan ketiga keluarganya yang lain seperti Joko Suseno, Naura Kanita dan Sumami belum terindentifikasi. “Saya sudah membicarakan dengan pihak keluarga adik ipar saya, nanti mau dimakamkan di Sawo Tratap,” katanya.

Erna melanjutkan, sejak awal dia tidak pernah mendapat firasat akan mendapat musibah ini. Baik itu melalui mimpi atau ucapan-ucapan dari keluarganya yang menjadi korban.

Bahkan, sebelumnya, sang adik, Joko Suseno sempat menawari anaknya untuk ikut berwisata ke Singapura. Lantaran ada kegiatan pengambilan rapor, maka anaknya tidak diizinkan untuk berangkat.

Selanjutnya, pada saat hari Minggu (28/12) lalu dia bersama suami pergi untuk jalan-jalan. Tak jauh dari rumahnya, terdengar berita dari stasiun radio lokal. Berita itu mengabarkan bahwa, pesawat Air Asia QZ8501 hilang kontak.

“Saat itu juga saya ke bandara Juanda. Saya ingin tahu yang menumpang pesawat Air Asia ini siapa saja. Ini karena saya tahunya, adik saya pagi itu berangkat ke Singapura, tapi tak tahu naik pesawat apa,” katanya.

Setibanya di bandara, dia langsung menuju posko Crisis Center Air Asia. Oleh petugas, dia disarankan untuk ke kantor pelayanannya Air Asia. Sayangnya, petugas maskapai enggan untuk membeber siapa saja penumpang di pesawat naas itu.

Tak lama kemudian, dia ditelepon salah satu wartawan dan memintanya untuk kembali ke posko. Wartawan mengabarkan bahwa, data semua penumpang Air Asia QZ8501 sudah diumumkan pihak bandara.

“Setelah saya keluarga saya naik pesawat ini, badan saya langsung lemas. Saat itu saya tidak selera makan. Tiga hari saya tidak makan dan malas diajak bicara. Baru hari ini saya makan dan perlahan mulai bisa diajak bicara dengan leluasa,” katanya.

Erna mengaku harus merelakan kepergian keluarganya yang terjadi secara mendadak ini. Ia tak pernah menyangka keluarganya akan mengalami kematian secara tragis.

Akhirnya, diapun memilih untuk merelakan kepergian mereka, agar arwahnya bisa tenang di alam baka. “Saya sekarang tidak menangis lagi kenapa, karena air mata saya sudah habis. Lagipula, saya harus merelakan kepergian mereka. Jika saya tidak merelakan, kasihan mereka. Saya juga berdoa agar semua korban bisa ditemukan. Dan semoga ada mukjizat bahwa mereka selamat,” katanya.(ant/Bj02)