Home Headline Klaster Asrama Pelajar di Blora Berawal dari 6 Siswa Positif, Begini Penjelasan...

Klaster Asrama Pelajar di Blora Berawal dari 6 Siswa Positif, Begini Penjelasan Pihak Sekolah

BLORA, 11/6 (BeritaJateng.net) – Pihak SMP dan SMK Kristen Blora memberikan klarifikasi terkait munculnya klaster asrama pelajar di Blora yang menyebabkan 6 siswa terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan swab PCR.

Kepala SMP Kristen 1 Blora, Kustiyah menjelaskan secara rinci kronologi adanya swab PCR di lingkungan sekolahnya.

Menurutnya, swab masal tersebut berawal dari bapak asrama yaitu Pak Lukas mempunyai sejumlah penyakit bawaan yang diderita selama ini.

“Beliau punya penyakit yang sudah cukup lama diderita, antara lain mengidap penyakit jantung, tensi tinggi, kolesterol tinggi, yang terakhir itu gula tinggi banget,” ucap Kustiyah saat ditemui di SMP Kristen 1 Blora, Jumat (11/6/2021).

Ditambahkan Kustiah, Lukas dibawa ke RSU Soetijono Blora pada Tanggal 29 Mei karena kondisinya yang sangat lemah, tidak bisa bergerak, dan sulit bernapas.

“Lalu dimasukkan di ruang IGD dan penanganannya jelas dilakukan swab, di IGD merasa kurang nyaman dengan pelayanannya karena butuh pelayanan yang khusus, dan ketika memanggil, perawatnya enggak langsung datang. Jadi lama-lama Pak Lukas ini merasa tidak nyaman dan minta pulang paksa,” katanya.

Pada 31 Mei sekitar jam 10 siang kepala asmara tersebut pulang paksa dari RSU, namun hasil swabnya masih belum keluar.

“Saat kembali ke asrama banyak berhadapan dengan anak-anak, mendapat layanan yang baik, saya melihat kondisinya bagus.

Tapi setelah itu beliau merasa ada penurunan stamina akhirnya malamnya minta untuk dilarikan di RS Yakkum Purwodadi. Kemudian hasil swab di RSU itu keluar tanggal 1 Juni hasilnya positif Covid-19,” jelasnya.

“Kemudian di Yakkum Tanggal 2 Juni melakukan swab juga. Tanggal 3 hasilnya keluar dan dinyatakan negatif,” paparnya

Ketika Lukas berada di Purwodadi, pada 3 Juni pihak puskesmas melakukan swab masal untuk semua guru, karyawan dan siswa yang ada di asmara putra ataupun asmara putri.

“Pada saat swab tersebut, Pak Lukas itu belum meninggal, masih ada di Yakkum. Pak Lukas meninggal 6 Juni, jam 15.30 WIB, dan dimakamkan di Purwodad, Senin 7 Juni,” katanya.

Menurut Kustiyah, apabila Lukas meninggal dalam keadaan Covid, maka petugas rumah sakit akan segera melakukan pemakaman dengan menggunakan APD lengkap.

“Tapi ini, pihak rumah sakit memberikan kesempatan untuk dibawa ke pihak keluarga. Pada saat pemakaman sama sekali tidak ada satupun petugas dari rumah sakit yang mengawal karena tidak dinyatakan positif Covid-19. Prosesi pemakaman semuanya ditangani oleh pihak keluarga dan kerabat dekat,” ucap Kustiyah.

Sehingga, pihaknya merasa keberatan dengan informasi yang menyebut Lukas meninggal akibat Covid-19.

“Bapak asrama meninggal karena Covid, itu tidak benar. Jadi Pak Lukas meninggal bukan karena Covid,” jelasnya.

Sementara itu, Kustiyah juga mengatakan berdasarkan hasil swab yang dilakukan oleh pihak puskesmas, terdapat satu anak yang terindikasi positif Covid-19 di asrama putri dari total 32 penghuni asrama tersebut.

“Sedangkan di asrama putra itu ada 4 anak yang terindikasi positif, dan satu ibu asrama yang terindikasi positif dari total 29 penghuni asrama,” terangnya.

Menurutnya, sampai saat ini keenam orang yang melakukan isolasi mandiri dalam kondisi sehat.

“Semua yang mengalami isolasi mandiri tidak ada yang panas, batuk, pilek, sesak tenggorokan, pusing, semuanya kondisinya baik-baik saja sampai saat ini,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 6 orang dinyatakan positif Covid-19 pada klaster asmara pelajar yang terjadi di asmara SMP dan SMK Kristen, Kelurahan Tempelan, Blora.

Bidan Kelurahan Tempelan, Niken Permatasari mengatakan klaster asrama tersebut berawal ketika kepala asmara mengalami sakit lalu dilakukan swab PCR di RSU Soetijono, Blora.

“Awalnya, bapak asrama pak Lukas sakit diopname di RSU dan dua kali swab hasilnya positif,” ucap Niken kepada wartawan, Kamis (10/6/2021).

Namun, sebelum masa isolasinya selesai, ia memilih pulang ke asrama. Setelah itu, ia mengeluh sakit lagi dan diopname ke Purwodadi. Tiga hari kemudian, kepala asrama tersebut meninggal dunia. (Her/El)