Home Headline Ketua DPRD Jateng: Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka di Jawa Tengah Harus...

Ketua DPRD Jateng: Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka di Jawa Tengah Harus Utamakan Protokol Kesehatan

SEMARANG, 3/5 (Beritajateng.net) – Pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama 1 tahun lebih, berbagai kebiasaan baru harus mulai diakrabi oleh masyarakat. Selama kurun waktu satu tahun lebih ini telah dilakukan berbagai pembatasan di semua lini kehidupan termasuk dunia Pendidikan. Semua jenjang Pendidikan mulai tingkat pra sekolah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak Kanak (TK), Pendidikan Dasar (SD), Sekolah Lanjutan baik SLTP dan SLTA serta Perguruan Tinggi harus dilaksanakan dengan system online (Daring).

Dengan system Daring tentu saja banyak sekali kelemahannya karena siswa tidak dapat menerima pelajaran secara optimal. Bahkan peserta didik tidak dapat melakukan kerja praktek secara langsung di laboratorium dengan bimbingan guru atau instruktur dengan baik. Hal ini sudah barang tentu akan menurunkan kwalitas Pendidikan. Namun tidak ada jalan lain selain dengan system daring karena prioritas yang paling utama adalah menjaga kesehatan dengan mencegah penularan Covid-19 bagi peserta didik.

Ketua DPRD Jawa Tengah Bambang Kusriyanto mengatakan, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (Daring) yang selama satu tahun lebih dilakukan ini tidak hanya membuat repot peserta didik namun juga para guru banyak yang gagap dalam memberikan pembelajaran.

“Banyak juga guru yang hanya memberikan tugas atau soal yang harus dikerjakan peserta didik tanpa memberikan bimbingan sama sekali. Ini banyak ditemukan di jenjang Pendidikan dasar,” ungkapnya dalam perbincangan dengan Beritajateng.net, Senin (3/5/2021).

Disisi lain, politisi yang akrab disapa Krebo ini menjelaskan,  orang tua siswa juga dibuat repot dengan system ini. Mereka tidak bisa tinggal diam menghadapi putra putrinya merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas tugas yang diberikan oleh gurunya. Sehingga tidak jarang tugas tugas yang dikumpulkan atau diserahkan dalam bentuk soft file atau juga foto merupakan hasil pengerjaan yang dilakukan oleh orang tua.

“Kondisi ini menyebabkan nilai nilai yang diperoleh ketika hasilnya diumumkan adalah bukan nilai sebenarnya yang diperoleh peserta didik. Hal ini sudah barang tentu menjadikan peserta didik tidak memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan,” bebernya.

Seiring dengan semakin menurunnya angka positif Covid-19 di Jawa Tengah, Pemprov Jateng melaksanakan uji Coba Pembelajaran Tatap Muka terhadap beberapa sekolah yang ditunjuk mulai tanggal 5 s/d 16 April 2021 untuk tahap pertama dan dilanjutkan sampai saat ini terhadap sekolah sekolah di 35 kab/kota.

Dengan dilaksanakannya uji coba pembelajaran tatap muka ini diharapkan akan diketahui apakah sudah memungkinkan dilaksanakan pembelajaran tatap muka secara regular terhadap semua sekolah sebagaimana direncanakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada Bulan Juli mendatang. Untuk Kab. Semarang sendiri sudah dilaksanakan ujicoba di SMPN 1 Ungaran, SMA Negeri 1 Ungaran dan SMK Negeri 1 Tengaran.

Pelaksanaan Ujicoba pembelajaran tatap muka saat ini dibayangi dengan kekawatiran munculnya kluster baru penyebaran Covid-19. Hal ini mengingat tenaga pendidik dan peserta didik belum memperoleh Vaksin Covid-19. Hal inilah yang kemudian membuat beberapa pihak terutama orang tua merasa gamang untuk melepas putra putrinya mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka.

“Saya minta ujicoba ini dilaksanakan dengan menerapkan protocol kesehatan secara ketat. Jangan sampai terjadi kluster baru di dunia Pendidikan,” urainya.

Beberapa kasus memang ditemukan pada pelaksanaan ujicoba pembelajaran tatap muka yang sudah dilaksanakan. di Wonogiri ditemukan 3 siswa positif Covid-19, Di SMA 1 Wirosari Grobogan ada 1 guru meninggal positif Covid-19 Imbasnya ujicoba di wonogiri dihentikan sementara. Demikian juga di SMA 1 Wirosari Grobogan dihentikan.

Namun demikian uji coba ini tentu saja diharapkan bisa berjalan dengan baik dan selanjutnya tidak ada lagi siswa atau guru maupun pegawai di sekolah yang melaksanakan ujicoba terpapar Covid-19. Untuk itu semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran  tatap muka ini untuk melaksanakan Protokol Kesehatan yakni selalu memakai Masker, mencuci tangan dengan Sabun atau Hand Sanitizer dan menjaga jarak.

Untuk memastikan terlaksananya protocol kesehatan dengan baik pihak sekolah hendaknya menyediakan sarana prasarana yang cukup. Beberapa hal yang harus disiapkan diantaranya alat pengukur suhu tubuh, tempat cuci tangan yang harus tersedia di beberapa tempat, penyediaan Masker dan mengatur jarak antara satu tempat duduk dan meja satu dengan lainnya.

Disamping itu harus pula dilakukan pembatasan bagi peserta didik yang mengikuti pembelajaran tatap muka agar tidak terjadi kerumunan di kelas. Misalnya dilaksanakan dengan jumlah peserta didik 1/3 dari kapasitas kelas dan pembatasan waktu belajar dalam setiap hari pelaksanaannya. Misalnya hanya 2 atau tiga jam dan diutamakan pada pelajaran pelajaran yang sulit serta pelajaran praktek.

“Satu hal yang sebaiknya dilaksanakan sebelum dimulainya pembelajaran tatap muka yang rencananya akan dilaksanakan secara regular pada Juli mendatang (bukan uji coba) adalah prioritas pemberian vaksin Covid-19 pada guru dan peserta didik,” tegasnya .

Hal yang tidak kalah penting diterapkan oleh pihak sekolah adalah memberi kebebasan kepada orang tua untuk mengijinkan atau tidak mengijinkan putra putrinya mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka termasuk apabila nanti diputuskan dilaksanakan pembelajaran tatap muka secara regular.

Pemberlajaran tatap muka sebaiknya tetap dipadu dengan system daring bagi peserta didik yang tidak mendapat giliran datang langsung ke sekolah atau tidak diijinkan oleh orang tuanya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka ini. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat dilakukan terhadap semua peserta didik baik yang berada di kelas maupun belajar dari rumah.

(ADV)