Home Headline Keluarga Mendukung Hukuman Mati Narkoba

Keluarga Mendukung Hukuman Mati Narkoba

eksekusi mati 1

Batam, 24/1 (BeritaJateng.net) – Keluarga korban peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang mendukung sanksi hukuman mati bagi gembong dan bandar narkoba demi membumihanguskan barang berbahaya itu di Indonesia.

“Kalau hukuman mati itu dijatuhkan kepada gembongnya benar, saya setuju,” kata orang tua korban narkoba, Jul, di Batam Kepulauan Riau, Sabtu.

Menurutnya, narkoba adalah kejahatan paling kejam di bumi, karena merubah sifat, sikap dan karakter seseorang dari baik menjadi jahat dalam seketika.

Jul mengatakan, penderitaan tidak hanya dialami korban narkoba yang ketagihan, namun juga keluarga dan lingkungan korban. Karenanya harus ada hukuman yang berat kepada bandar narkoba.

Sebenarnya, ia tidak setuju dengan hukuman mati, karena ketentuan hidup dan mati adalah hak maha pencipta, bukan hakim atau pengadilan. Namun, khusus untuk bandar narkoba, ia menyatakan setuju.

“Karena saya mengalami sendiri memiliki anak korban narkoba, bagaimana jahatnya pengedar dan bandar membujuk rayu untuk menggunakan barang itu,” kata dia.

Dan seperti yang tertuang dalam UU, Jul setuju dengan hukuman rehabilitasi bagi korban narkoba.

Senada dengan Jul, aktivis penggiat anti narkoba, Amun Mama juga menyatakan sepakat hukuman mati untuk bandar narkoba karena telah menyebarkan “setan” kepada pengguna.

“Kalau bandar yang dihukum mati, saya setuju, karena memang dia penjahatnya, bukan kurir,” kata Amun Mama.

Ia menolak hukuman mati untuk kurir narkoba, seperti yang dilakukan Kejaksaan Agung pada pekan lalu.

Menurut Amun Mama, sama seperti pengguna narkoba, kurir juga korban dari bandar yang memperdaya dengan rayuan uang atau bahkan ancaman nyawa.

“Tujuan dari hukuman mati adalah sebagai efek jera. Tapi, itu tidak akan berlaku bagi kurir,” kata dia.

Bandar narkoba akan dengan mudah mencari kurir-kurir baru untuk mengantarkan barang “setan” itu ke penjuru dunia dengan berbagai cara.

Dalam beberapa kasus, kurir dipaksa mengantarkan narkoba dengan di bawah ancaman, jika tidak mau, maka keluarganya di kampung akan dibunuh dan lain sebagainya. Dan itu harus dipahami oleh penegak hukum.

“Ada juga yang diiming-imingi uang. Hari ini sulit mencari uang, kebutuhan hidup semakin besar, bagi yang berpikiran pendek tentu saja mau menjadi kurir,” kata dia.

Namun, jika hukuman mati diberikan kepada bandar, maka akan tepat sasaran, memutus jaringan narkoba dari pangkalnya.

Enam terpidana mati dieksekusi pada Minggu dinihari di Nusakambangan dan Boyolali, yaitu Marco Cardoso (Brazil), Ang Kiem Soei (alias) Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi (Belanda), Daniel Enemuo lias Diarrassouba Mamadou (Nigeria), Tran Thi Bich Hanh (Vietnam) dan Rani Andriani alias Melisa Aprilia (Indonesia).

Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan, masih ada 60 terpidana yang akan dieksekusi mati karena terlibat kasus besar, seperti narkoba. (Ant/BJ)