Home Nasional Keluarga Besar Lanud Adisutjipto Gelar Doa Bersama

Keluarga Besar Lanud Adisutjipto Gelar Doa Bersama

479

Sleman, 31/12 (Beritajateng.net) – Ratusan anggota TNI AU Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta, Rabu, menggelar doa bersama Shalat Goib bagi para korban musibah pesawat AirAsia QZ8501 di perairan Pangkalanbun, Kalimantan Tengah.

“Shalat Goib dan doa bersama ini sengaja digelar untuk mendoakan para korban,” kata Komandan Pangkalan TNI AU Adisutjipto Yogyakarta Masekal Pertama TNI Yadi I Sutanadika.

Menurut dia, dalam musibah jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, pihak Lanud Adisutjipto Yogyakarta memberikan kedudukan tersendiri bagi Keluarga Besar Lanud Adisutjipto, karena Kapten Pilot Irianto mengawali karirnya di Lanud Adisutjipto.

“Kapten Irianto mengawali karir melalui Sekolah Penerbangan TNI AU di Yogyakarta,” ucapnya.

Ia mengatakan, orang tua Kapten Irianto sendiri juga merupakan pensiunan TNI AU Lanud Adisutjipto.

“Karenanya sebagai bagian dari Keluarga Besar TNI AU Lanud Adisutjipto, kami merasa perlu untuk memberikan penghormatan,” ujarnya.

Yadi mengatakan, sebelum memilih profesi sebagai pilot pesawat komersil, Kapten Irianto merupakan penerbang pesawat tempur F-5 Tiger milik TNI AU.

“Kapten Irianto juga telah beberapa kali terjun berbagai macam operasi di Indonesia,” tuturnya.

Ia mengatakan, bagi para pejabat militer di lingkungan TNI AU, sosok Kapten Pilot Irianto bukan merupakan sosok yang asing.

“Pada 1983 Irianto tercatat sebagai Siswa Sekolah Penerbangan (Sekbang) TNI AU angkatan 30 melalui Ikatan Dinas Pendek (IDP) di Wing Pendidikan Terbang Lanud Adisutjipto Yogyakarta,” katanya.

“Bahkan Kapten Irianto tercatat sebagai satu-satunya lulusan IDP yang lolos tugas di satuan tempur TNI AU. Ia dikenal sebagai salah satu ‘Flight Leader’ pesawat tempur jenis F-5 Tiger yang menjadi andalan tempur udara era 1980-an,” ungkapnya.

Yadi mengatakan, dirinya yang merupakan adik kelas Kapten Irianto, banyak mendapat pengarahan dan pengajaran untuk menerbangkan pesawat tempur dari Kapten Irianto.

“Kami pernah bertugas bersama di ‘Home Base’ Pesawat F-5 Skuadron Udara 14 Lanud Iswahyudi Madiun pada 1988-1989,” ucapnya.

Ia mengatakan, dengan memiliki 2.500 jam terbang di militer serta 1.000 jam terbang bersama F-5 Tiger, kemampuan terbang Kapten Irianto sudah tidak diragukan lagi, terlebih Irianto pernah menjalankan berbagai macam operasi di Indonesia.

“Namun, Kapten Irianto memutuskan untuk tidak melanjutkan karier di militer setelah masa IDP berakhir pada 1994 dengan pangkat terakhir Lettu Penerbang. Irianto memilih menjadi penerbang pesawat komersil,” ujarnya. (Ant/BJ)