Home Lintas Jateng Keberadaan “Kuburan Plumbon” akan Dikupas

Keberadaan “Kuburan Plumbon” akan Dikupas

Foto/Ilustrasi

 

Semarang, 15/12 (Beritajateng.net)  – Fenomena makam yang diduga kuburan massal korban tragedi 30 S/PKI tahun 1965 di Kampung Plumbon, Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang,  bakal dikupas dalam diskusi, termasuk pemakamannya kembali secara layak.

“Utamanya, soal pemakaman kembali korban peristiwa 1965 itu secara layak,” kata Koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) Yunantyo Adi S di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan sebenarnya keberadaan makam di Kampung Plumbon atau biasa disebut “Kuburan Plumbon” itu sebagai kuburan massal eks-PKI sudah diketahui banyak pihak, termasuk masyarakat sekitar.

Menurut kesaksian warga setempat, kata dia, setidaknya ada tiga versi jumlah korban yang dikuburkan secara massal di tempat itu, yakni versi pertama 24 orang, kemudian 21 orang, dan 12 orang.

“Memang belum dilakukan penggalian makam karena nanti yang berwenang melakukannya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), atau atas seizin Komnas HAM. Kami sudah melaporkannya,” ungkapnya.

Apalagi, Yunantyo mengatakan sudah ada beberapa keluarga korban yang selama ini rutin berziarah di makam tersebut dan semakin menguatkan bahwa makam itu merupakan kuburan massal korban peristiwa 1965.

Meski sudah banyak yang mengetahui keberadaan dua makam yang diduga kuburan massal korban peristiwa 1965 itu, kata dia, selama ini belum ada wacana untuk memakamkan kembali para korban secara layak.

“Karena itu, kami berencana menggelar diskusi untuk membahas pemakaman kembali korban peristiwa 1965 ini. Tujuannya, untuk rekonsiliasi dan saling memaafkan. Stigma negatif juga harus dihilangkan,” tukasnya.

Diskusi bertema “Misteri Kuburan Plumbon; Mengungkap Tabir Kuburan Massal Eks-PKI” itu rencananya digelar di Gedung Pusat Informasi Publik (PIP) Kompleks Balai Kota Semarang, Selasa (16/12), pukul 09.00 WIB.

Menurut Agustin selaku penggagas acara dari Komunitas Semarang Punya Cerita, diskusi itu untuk merespons gagasan para pemerhati HAM yang berkeinginan memakamkan kembali para korban peristiwa 1965 secara layak.

Rencananya, diskusi itu menghadirkan sejumlah tokoh, seperti Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang Prof Wasino, Tedi Kholiluddin dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa), serta tokoh-tokoh agama.

“Setiap peserta juga bisa menjadi narasumber dalam diskusi ini. Diskusi ini ‘free’ (gratis) untuk siapa saja. Silakan hadir. Baik yang pro maupun kontra silakan berbicara dalam diskusi ini,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Sejarah Unnes Prof Wasino mengatakan belajar dari masa lalu PKI merupakan musuh rezim orde baru dan sampai sekarang masih menjadi partai terlarang mengacu Tap MPRS/XXV/1966.

Namun, kata pengajar Sejarah Sosial itu, tujuan para pegiat kemanusiaan untuk memakamkan ulang para korban yang dimakamkan secara massal di Kuburan Plumbon itu merupakan langkah rekonsiliasi yang patut didukung.

“Tidak semua orang yang terbunuh dalam tragedi itu murni terlibat dan memahami ideologi. Situasi saat itu serba kacau. Kalau saya tak senang pada seseorang, bisa asal nunjuk seseorang itu sebagai anggota PKI,” katanya.(ant/ss)

Advertisements